Saturday, July 20, 2013

Change My Mind

Juara Harapan 2 #1DFanficContest13 


HLS


Siang itu di pertengahan musim semi Harry sedang menemani ibunya—Anne, pergi berbelanja di sebuah pasar swalayan. Harry sedari tadi sibuk menjentikan jari-jarinya di layar ponsel tanpa mempedulikan bahwa ibunya sedang kerepotan mencari bahan-bahan makanan untuk persediaan bulanan.

Anne terlihat sedikit kesal dengan tingkah laku anaknya yang satu ini. Harry sudah jarang berada di rumah karena sibuk dengan bandnya, sementara saat ia memiliki waktu untuk berkumpul dengan keluarga ia justru sibuk dengan ponselnya.

“Kau sedang berkomunikasi dengan siapa?” tanya Anne.

“Taylor.”

Kening Anne berkerut, “Bukankah hubungan kalian sudah berakhir?”

“Ya. We just want to make anything’s clear, mum. Don’t worry.”

Harry tau bahwa ibunya tidak begitu menyukai Taylor. Menurut Anne, Taylor bukan gadis yang bisa menjaga Harry dengan baik. Kelakuannya tidak sesuai dengan umurnya yang lebih tua lima tahun dari Harry. Itulah yang menjadi masalah bagi Anne untuk bisa bersikap ‘welcome’ pada mantan kekasih anak kesayangannya itu. Anne bahkan merasa sedikit lega saat Harry memutuskan hubungannya dengan Taylor, menurutnya Harry sudah mengambil langkah yang benar.

Setelah hampir tiga jam berbelanja dan mengambil foto bersama beberapa fans yang menghampiri mereka, Anne meminta Harry untuk menemaninya pergi ke rumah sahabatnya, Ny.Hastings. Harry tidak tau sama sekali mengenai rencana Anne dan sahabatnya mengenai sebuah ‘perjodohan’. Anne yakin jika anaknnya tau mengenai hal ini, ia pasti akan menolak untuk pergi mengunjungi rumah kediaman seorang pejabat konglomerat terkenal di London.
.....................................................................................................................................................

Mata dan mulut Harry terbuka lebar begitu ia mengetahui bahwa ibunya memiliki seorang teman lama yang dikenal oleh banyak pejabat-pejabat Inggris. Apalagi saat ia menginjakan kakinya di kediaman Hastings, Harry berdecak kagum memperhatikan barang-barang antik dan guci-guci porselain yang menghiasi rumah itu. Tiang-tiang yang indah menjulang tinggi menopang rumah besar bak istana tersebut.

Mr.Hastings adalah salah seorang menteri di kerajaan Inggris, sementara istrinya—Ellie Hastings—adalah seorang ibu rumah tangga yang lebih senang diam dirumah bersama putri semata wayangnya, Sheera.

Sheera adalah seorang gadis berumur 19 tahun yang senang menghabiskan waktunya untuk menyendiri. Sheera memang gadis yang pemalu, namun disamping itu ia adalah gadis yang cukup ‘liar’, bukan dalam artian yang negatif. Ia disebut ‘liar’ karena perilakunya yang seperti bocah laki-laki. Sheera begitu senang dengan hal-hal yang menantang dan menguji adrenalinnya. Jika ia turun dari tangga saja ia selalu berseluncur di lengan tangga. Hampir setiap kali ia memakai rok atau gaun, pasti selalu saja ada bagian yang robek. Walaupun ia gadis periang namun ia juga seorang yang pemalu disaat yang bersamaan. Oleh sebab itu ia tidak memiliki banyak teman. Jumlah kawanannya bisa dihitung oleh jari, tidak seperti Harry yang mungkin kesepuluh jari tangan dan kakinya tidak bisa mewakili jumlah teman-teman dekatnya, atau bahkan gadis yang pernah digosipkan dengannya.

Para pelayan keluarga Hastings menyambut Anne dan putranya dengan baik. Ellie langsung menyuruh mereka berdua untuk duduk sembari meminum teh hangat yang aromanya begitu luar biasa nikmat.

Setelah saling menanyakan kabar masing-masing, Ellie langsung memanggil kepala pelayannya. “Anna, tolong panggilkan Sheera. Suruh ia berpakaian yang pantas.” Ellie membisikan kalimat terakhirnya pada Anna.

Wanita paruh baya itu langsung beranjak ke lantai atas untuk memanggil putri kesayangan keluarga Hastings.

Sheera yang saat itu sedang asik mendengarkan musik langsung memasang tampang kesalnya begitu Anna menyuruhnya turun ke bawah dan menyapa teman Ellie. Apalagi Sheera harus berganti pakaian segala.

Anna dan Sheera menuruni anak tangga satu-persatu. Untung saja kali ini Anna menarik lengan Sheera saat ia hendak menuruni tangga dengan ‘caranya’, jadi Ellie tidak perlu malu jika terdengar suara dentuman yang cukup keras saat Sheera ‘mendarat’ dengan bokongnya di lantai.

Gadis manis berambut hitam panjang tergerai itu pun langsung menampakan batang hidungnya di hadapan Anne dan putranya, Harry Styles. Sheera yang mengenakan sebuah dress panjang berwarna putih transparan membuat Harry sedikit membuka mulutnya. Walaupun cara Sheera berjalan tidak terlihat seperti orang dari kalangan bangsawan, tetapi dari penampilannya ia tau bahwa Sheera adalah seorang putri dari khayangan.

“Kenalkan, ini putriku, Sheera.” Tutur Ellie.

Sheera hanya tersenyum dan menjabat tangan Anne dan Harry secara bergiliran. Tidak ada kesan yang spesial saat Sheera dan Harry berjabat tangan. Mereka benar-benar tidak terlihat saling tertarik.

“Dia cantik sekali. Sama seperti ibunya saat masih muda dulu.” Puji Anne.

Ellie tertawa kecil mendengar pujian dari sahabatnya, “Kau bisa saja Anne. Putriku bahkan tidak pernah peduli dengan penampilannya. Ia selalu berpenampilan apa adanya. Aku dan pelayan-pelayanku bahkan harus selalu memaksanya untuk berpakaian rapih disaat menghadiri acara-acara penting atau diwaktu tamu-tamu penting kami datang seperti sekarang ini.”

“Ah Ellie, kami sama sekali bukan tamu penting. Kau selalu berlebihan.”

Kini keduanya tertawa bersama. Sementara itu Sheera terlihat bosan mendengar pembicaraan mereka yang tidak tau ujungnya dimana. Begitupun dengan Harry, ia masih saja sibuk dengan ponselnya. Keningnya terus berkerut ketika menerima pesan dari Taylor. Harry memang masih down dengan gagalnya hubungan mereka. Bayangkan saja mereka hanya berpacaran selama 37 hari. Waktu yang begitu singkat dan kini keduanya seperti saling menaruh dendam. Walaupun Harry berkata pada media bahwa ia tidak memiliki dendam pada Taylor, tapi jauh di dalam lubuk hatinya Harry masih sakit hati pada gadis yang pernah ia puja itu.

“Harry...” bisik Anne sambil menyikut lengan putranya.

“Hmm?” Harry mendongakan wajahnya pada wanita yang duduk di sampingnya itu.

“Jangan diam saja. Ajak Sheera bicara.” Bisik Anne.

Harry pun berusaha untuk menuruti Anne. Ia berdeham dan mulai menatap gadis yang duduk di sebrangnya. “Kau tidak pergi sekolah?”

Sheera justru tergelak mendengar pertanyaan Harry. “Aku? Pergi sekolah? Kau kira umurku berapa? Hey tuan boyband, aku ini seumuran denganmu. Aku sudah kuliah sekarang.”

Sontak Harry setengah terkesiap mendengar cara bicara Sheera yang terkesan agak kasar. Tapi Harry masih berusaha untuk lembut dengannya. “Oh maaf, kukira kau jauh lebih muda dariku.”

Detik itu juga Ellie langsung menegur Sheera yang sudah berbicara tidak sopan pada Harry. Anak gadisnya itu memang terkadang cukup blak-blakan. Apalagi jika moodnya sedang tidak karuan.
“Uh...jadi Ellie, apakah kita jadi dengan rencana kita waktu itu?” tanya Anne.

“Ya, tentu. Itupun jika kau tidak keberatan untuk mengatakannya pada mereka berdua.”

Anne tersenyum kemudian melirik ke arah Harry selama beberapa detik. Namun kini kening Harry berkerut, ia sadar bahwa yang Ellie dan Anne bicarakan adalah tentang dirinya.
Well, Harry sebenarnya maksud mum mengajakmu kemari adalah untuk mengenalkanmu pada Sheera.” Tutur Anne. “Kami ingin menjodohkan kalian berdua.” Lanjutnya lagi tanpa banyak basa-basi. Kedua mata Harry dan Sheera langsung terbuka lebar begitu mendengar ucapan Anne.

Apa ia bercanda?! Batin Harry.

Aku? Dan si pria boyband playboy ini? Dijodohkan?? Yang benar saja! Sheera menggerutu dalam hatinya.

“Tunggu tunggu tunggu. Mum kau—“

“Kami tidak bercanda Harry.” ujar Ellie seakan-akan ia mengetahui dengan apa yang akan dikatakan calon menantunya itu.

“You’re crazy mum.” Tutur Sheera sambil tergelak. Ia menatap nanar pada Ellie—masih tidak percaya bahwa ibunya tega menjodohkan dirinya dengan seorang Harry Styles.

Sheera tau bahwa Harry adalah pria yang sering digosipkan oleh banyak gadis. Hampir setiap minggu pria di hadapannya ini dikabarkan dengan gadis yang berbeda-beda. Bagaimana Sheera tidak terganggu dengan hal itu?! Apalagi usia mereka masih sangat muda. Jelas-jelas Sheera menolak ide perjodohan ini.

“Mengapa kau harus menjodohkan aku dengannya mum?” tanya Sheera hampir berbisik sekaligus menggerutu.

“Tidakkah ia tampan dan menawan, Sheera? Ia pria yang baik dan pantas untukmu. Lagipula bukankah kau mengidolakan One Direction?”

Ah! Kini kartu Sheera terbuka oleh ibunya sendiri. Detik itu juga wajahnya memerah apalagi saat ia melirik ke arah Harry. Wajah Harry saat ini terlihat sedang mati-matian menahan tawa. Sheera langsung menundukkan wajahnya yang semerah tomat.

Sementara itu Harry tidak tau harus berkata apa. Ia tidak mengetahui apapun mengenai Sheera. Bahkan di pertemuan pertama mereka saja tidak ada kesan yang berarti baginya.
“Jadi bagaimana? Apa kalian bersedia?” tanya Anne.

Harry bergeming, namun Sheera sendiri masih tetap menolak. “Ini sangat bodoh. Aku tidak mau.”

Ellie berusaha untuk tetap tenang dan masa bodoh mendengar jawaban putrinya. “Kau Harry? Apa kau bersedia untuk dijodohkan dengan putriku?”

Harry memutar bola matanya kesana kemari. Kemudian pandangannya terhenti pada sesosok gadis berwajah malaikat yang ada di hadapannya. Ia bingung harus menjawab apa karena ia tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan. Akan terkesan tidak dewasa jika Harry langsung menolaknya. Tapi tiba-tiba saja wajah Taylor terlintas dalam pikirannya. Ia berpikir mungkin orang-orang akan berhenti membicarakan ‘Haylor’ jika Harry kembali muncul dengan gadis baru lagi. Tapi di sisi lain Harry juga khawatir jika orang-orang akan berpikir bahwa ia seorang mata keranjang yang mudah berpindah ke lain hati. Selain itu, ini bukan perjodohan biasa. Ini adalah perjodohan yang akan berujung pada sebuah pernikahan.

“Ya. Aku bersedia dijodohkan dengan putrimu Nyonya Hastings.”

Mata Sheera terbelalak ke arah Harry. Sebenarnya apa sih yang ada dipikiran pria bodoh itu? Ia mengiyakan perjodohan ini begitu saja?? Ia pasti sudah gila!

“Great!” seru Anne bersemangat mendengar jawaban putranya. Ia sungguh bahagia bahwa putranya bersedia dijodohkan dengan Sheera. Anne benar-benar tidak menyangka jika Harry akan berkata ‘ya’.

“Kau gila ya tuan boyband? Kau menyetujui perjodohan ini begitu saja?! Ha! Jangan harap aku mau menikah denganmu.”

“Sheera jaga ucapanmu!” tegur Ellie. “Lagipula apa salahnya dengan perjodohan ini? Kau kan juga tidak bisa mencari pasanganmu sendiri.”

“Kau tenang saja nyonya Hastings. Akan kubuat putrimu mau menikah denganku.” Harry angkat bicara. Semua orang di ruangan itu langsung menatap Harry tidak percaya akan kata-katanya barusan.

Detik itu juga Sheera langsung beranjak menuju kamarnya di lantai atas. Ellie terlihat begitu khawatir karena putrinya enggan dinikahkan dengan Harry. Ia sangat yakin jika Harry bisa menjaga Sheera baik-baik, karena memang pada awalnya Ellie lah yang memohon pada Anne bahwa ia ingin menitipkan putrinya pada putra sahabat kepercayaannya itu. Saat itu Anne sendiri kaget mendengar permohonan Ellie, tapi Anne juga berpikir mungkin jika Harry dijodohkan maka putranya itu akan berhenti mendekati gadis-gadis yang bisa membuat karirnya terancam, mana lagi Sheera adalah seorang gadis yang manis keturunan keluarga Hastings. Sudah pasti Anne mau menerima ide perjodohan ini.
......................................................................................................................................................

“Harry...” sahut Anne.

“Yes, mum?”

“Apa kau yakin dengan perkataanmu tempo lalu?”

Mengerti ucapan Anne, Harry langsung duduk tegap di sofanya, “Ya. Aku yakin.”

“Seberapa yakin?”

“Sembilan puluh sembilan persen aku yakin.”

Anne bergeming selama beberapa saat. Jujur, ia sendiri masih tidak percaya bahwa anaknya berkata ‘ya’.
“Bisa kau katakan padaku apa yang menjadi alasanmu menerima perjodohan ini?”

“Karena aku yakin apapun yang menjadi pilihanmu adalah yang terbaik untukku. Jadi kurasa tidak ada salahnya jika aku menerimanya.”

“Jadi kau tidak keberatan?”

Harry menggeleng pelan pada Anne. Tentu saja Harry merasa keberatan, tapi Harry sudah memiliki rencananya sendiri. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk mengalihkan perhatian media dari berbagai kabar miring mengenai dirinya dengan ‘para gadis’. Toh, Sheera juga menolak perjodohan ini bukan? Jadi mereka tidak akan mungkin menikah. Setidaknya itulah yang Harry pikirkan saat ini. But, who knows?
.....................................................................................................................................................

Sementara itu di kediaman keluarga Hastings, Sheera justru bermuram durja di balkon rumahnya sambil memandangi taman belakangnya yang dipenuhi bunga-bunga dan sebuah air mancur besar yang sangat indah. Alasan terkuatnya menolak perjodohan ini adalah Carl. Diam-diam Sheera sudah memiliki seorang kekasih namun ia enggan untuk memberitahu kepada siapapun mengenai pria yang sudah menjadi kekasihnya selama enam bulan. Carl adalah seorang pria tulen yang romantis, penyayang, tapi juga ‘liar’ seperti Sheera. Bisa diibaratkan jika Sheera sedang bersama Carl, ia merasa nyaman seperti berada dalam dekapan seorang ayah. Ya, Sheera memang jarang mendapatkan perhatian dari ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya di kementrian Inggris. Oleh sebab itu ia sangat menyukai Carl, apalagi Carl lah yang mengajarinya bermain skateboard, panjat tebing, mengendarai motor gunung, juga balap mobil. Dan itu semua tanpa sepengetahuan kedua orang tua Sheera. Carl selalu menjaga Sheera dengan baik.

Kini yang Sheera pertanyakan adalah apakah ia harus memberitahu Carl bahwa ia akan dinikahkan dengan Harry? Atau ia harus diam saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa?

Ya, mungkin jika Carl tidak mengetahui hal ini akan jauh lebih baik. Carl bisa membunuh Harry jika ia tahu. Batin Sheera.
......................................................................................................................................................

Pagi-pagi sekali Harry sudah meninggalkan rumahnya. Ia mengendarai Range Rover-nya menuju rumah kediaman Hastings. Hari ini Harry berencana untuk mengenalkan Sheera pada keempat sahabatnya dan memberitahukan kejutan besar. Sebenarnya Harry malas untuk melakukannya tapi apa boleh buat? Jika ia ingin rencananya berhasil keempat sahabatnya beserta manajemen harus tahu.

“Mau apa kau kesini?!” bentak Sheera. Ia sangat terkejut begitu Anna memberitahunya bahwa Harry datang untuk menemuinya.

“Aku ingin mengajakmu menemui teman-temanku.”

“Untuk apa?”

“Mengenalkanmu pada mereka.”

Bertemu dengan Niall, Liam, Zayn, dan Louis?? Ya Tuhan! Apa ia bercanda? Batin Sheera.

“Mengapa aku harus dikenalkan dengan mereka?”

“Memang mengapa? Kau tidak mau? Bukankah kau menyukai kami?” Harry tersenyum licik padanya.

Sheera bergeming selama beberapa saat. Tentu saja Sheera ingin sekali bertemu dengan idolanya, tapi ia masih kesal pada Harry karena dengan mudahnya ia menyetujui perjodohan bodoh itu.
“Baiklah. Tunggu disini.”
......................................................................................................................................................

Sesampainya di flat, Harry langsung menggandeng tangan Sheera. Awalnya ia memang sempat menangkis tangan Harry, tapi pria keriting itu memaksa untuk menggenggam tangannya.

Sekitar hampir satu menit Harry memencet bel apartemen, akhirnya Louis membukakan pintu untuk mereka. Sheera terlihat sedikit kalap saat memandangi keempat pria yang begitu ia idolakan. Tentunya, di dalam hatinya ia fangirling habis-habisan. Ia tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan seluruh personil One Direction.

“Hello guys.” Sapa Harry sembari menarik tangan Sheera agar masuk ke dalam dan bertegur sapa dengan keempat sahabatnya.

“Jadi ia yang kau maksud sebagai ‘kejutan’, Harry?” tanya Louis begitu ia menutup pintunya. “Bagaimana bisa kau menghianatiku?” Louis menunjukan tampang dramatisnya dihadapan Harry. Begitu melihat raut wajah Sheera yang shock, Louis langsung tertawa begitu puas. Leluconnya memang selalu berhasil.

Harry mengangguk dan tersenyum simpul, “Well, kenalkan. Ia Sheera. Sheera, mereka—”

“Ya, aku tau.”

“Jadi ia pacar barumu, Hazz?” tanya Zayn sambil tersenyum ramah pada Sheera.

“Bukan. Ia calon istriku.”

Sontak, Liam, Louis, Zayn, dan Niall membuka mata mereka lebar-lebar. Bahkan Niall tertawa kecil mendengar ucapan Harry yang terdengar melantur.

“Kau bercanda.” Tutur Zayn.

Detik selanjutnya Harry mempersilahkan Sheera untuk duduk diikuti oleh dirinya, “Tidak, Zayn. Kami dijodohkan.”

Selama beberapa saat keadaan menjadi hening dan sunyi. Keempat pria tersebut memandang Harry dengan pandangan tidak percaya sekaligus terkejut. Namun tidak lama kemudian Niall mulai tertawa diikuti oleh Louis dan Zayn. Hanya Liam yang kelihatannya mempercayai kata-kata Harry. Dari sorot matanya, Liam percaya bahwa Harry tidak berbohong.
“Kau konyol.” Tutur Liam hampir berbisik. “Well, Sheera maaf sebelumnya. Tapi ada yang harus aku bicarakan dengan Harry berdua.” Liam segera bangkit dari sofanya.

“Liam. Ada yang ingin aku jelaskan pada kalian semua. Dan Sheera harus tahu mengenai rencanaku ini.”

Mendengar perkataan Harry, Liam mengurungkan niatnya dan langsung kembali duduk manis di sofa.

“Jujur saja kami berdua merasa keberatan dengan ide perjodohan Anne dan Ny.Hastings. Tapi aku menerimanya karena kupikir ini ide cemerlang untuk mengecoh media.”

“Maksudmu?” tanya Liam yang sudah gemas dengan cara bicara Harry yang lamban.

“Hey, aku belum selesai. Well, kalian tahu sendiri kan bahwa sejak hubunganku dan Taylor berakhir aku masih saja dihujani oleh banyak berita-berita yang tidak jelas. Bahkan aku semakin mendapatkan banyak cibiran dan dikenal sebagai ‘manwhore’, aku ingin menghentikan itu semua.”

“Maksudmu kau ingin menggunakan Sheera sebagai bukti bahwa kau bisa setia pada seorang gadis?”

“Yes, Li.”

“Tunggu tunggu....” Sheera mulai bersuara. “Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kau harus berpura-pura menjadi kekasihku.”

Sheera tergelak mendengar jawaban Harry yang terdengar sangat konyol.

 “Tapi Hazz, apa kau tidak memikirkan apa kata manajemen serta reaksi para fans nanti?” tanya Zayn.

“Malam ini aku akan memberitahu mereka.”

“Tidak. Aku tidak mau.” Ujar Sheera cepat. “Aku? Berpura-pura menjadi kekasihmu? Bergandengan tangan di depan publik dan mengumbar kemesraan? Kau gila ya? Hey, asal kau tau tuan boyband aku sudah memiliki seorang kekasih. Aku tidak mau jika ia sampai tahu bahwa aku dijodohkan denganmu.”

Kini giliran Harry yang tergelak, “Siapa yang bilang aku akan mengenalkan dirimu sebagai calon istriku? Hanya kekasih, bodoh.”

“Itu sama saja!” bentak Sheera. “Aku tidak mau.” Sheera bangkit dari sofanya dan beranjak pergi. “Kalau kau ingin seorang kekasih palsu ataupun sungguhan kau cari saja yang lain! Pokoknya aku tidak mau.”

“Hey hey hey.” Harry langsung menyusul Sheera dan meraih tangannya. “Aku mohon. Empat bulan saja. Kita bisa berpura-pura dihadapan kedua orang tua kita dan para fans bahwa kita sedang menjalin hubungan, lalu ditambah sedikit drama kita bisa mengakhirinya seperti sebuah film layar lebar. Ayolah, kumohon bantu aku.”

Sheera terkekeh kali ini, “Tapi sayangnya aku bukan seorang pemain film.”

Harry langsung menarik tubuh Sheera mendekat ke arahnya, “Aku mohon nona Hastings. Ini juga demi ibumu—dan ibuku.” Bisiknya tepat di hadapan wajah Sheera.

Entah apa yang ada dipikiran Sheera kali ini. Ia menjadi sedikit kalap dan gugup saat mendengar Harry berkata seperti itu. Bukan karena ucapannya, tetapi dari sorot mata hijaunya yang tajam dan suara seraknya yang begitu dalam membuat jantung Sheera sedikit tidak karuan hingga akhirnya Sheera menyetujui permintaan Harry.
......................................................................................................................................................

“Setelah mendapat persetujuan dari manajemen, besok aku akan memperkenalkanmu pada publik sebagai teman kencanku. Jika semuanya berjalan lancar dalam beberapa hari kemudian semua orang akan tahu bahwa kau adalah kekasihku, Sheera.” Tutur Harry tanpa menolehkan wajahnya ke arah Sheera. Ia fokus memperhatikan jalan raya yang cukup padat saat ini.

“Okay.” Jawab Sheera parau. Sejujurnya yang ada di otaknya saat ini adalah Carl.

Sekitar tiga puluh menit dalam perjalanan pulang, akhirnya mereka tiba di kediaman Hastings. Namun sesuatu menarik perhatian Sheera ketika ia melihat seorang pria berambut hitam sedang bersembunyi dibalik semak-semak halaman rumahnya, yang tidak lain adalah....
“Carl?” sahut Sheera begitu ia turun dari mobil Harry.

Pria itu menolehkan kepalanya dan berdiri. Senyuman langsung tersungging diwajahnya yang tampan bagaikan pangeran Disney ketika melihat Sheera muncul di hadapannya.
“Sheera. Aku menunggumu dari tadi, kau darimana saja?” Carl langsung memberikan pelukan hangat pada kekasihnya itu.

“A-aku—“

“Ia habis pergi bersamaku.” Tutur Harry saat ia turun dari mobilnya.

Carl langsung menyipitkan matanya saat melihat pria yang wajahnya begitu familiar di ingatannya itu.
“Who are you?”

Harry mengulurkan tangannya, “I’m Harry. Sheera’s fian—“

Dengan segera Sheera menutup mulut Harry dengan tangannya, “Ia anak teman ibuku. Harry. Kau tau kan? Harry Styles?”

Kini Carl ingat sekarang. Bagaimana bisa ia melupakan sekelompok pria yang begitu dipuja-puja oleh kekasihnya itu, yang salah satunya adalah Harry. Carl pun menjabat tangan Harry. Namun mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka bahwa Sheera benar-benar bisa bertemu dengan idolanya.
“Carl. Carl Hermsworth.”

“Senang bertemu denganmu.” Tutur Harry sambil tersenyum simpul.

“Aku juga.” Sebisa mungkin Carl berusaha untuk menjaga kesopanannya di hadapan Harry. Karena terkadang ia juga dibuat cemburu ketika Sheera membicarakan soal One Direction tanpa henti.

So, ada apa kau kesini?” tanya Sheera sambil memainkan bibirnya.

“Aku ingin mengajakmu ke arena balap. Malam ini pertandingannya seru.”

Harry langsung melirik ke arah Sheera dan Carl secara bergantian. Ia sedikit takjub ketika melihat ekspresi wajah Sheera yang terlihat begitu bersemangat.
Sure. Well, Harry aku pergi kencan dulu dengan kekasihku. Bye.” Sheera tersenyum licik dan melambaikan tangannya pada Harry. Kemudian ia langsung menaiki sebuah motor gunung milik Carl.

Hey, ia meninggalkanku begitu saja?Dasar perempuan. Batin Harry.

Ia hanya menggeleng pelan lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Namun entah mengapa ia merasa sedikit kesal ketika Sheera langsung meninggalkan Harry seorang diri di halaman rumah keluarga Hastings. Bahkan ia berharap bahwa Sheera akan memperkenalkan Harry pada Carl sebagai calon suaminya.
.....................................................................................................................................................

Setelah berdebat panjang lebar dengan manajemen, akhirnya semalam Harry berhasil dan mendapatkan ijin untuk mempublikasikan Sheera sebagai ‘kekasihnya’ pada media.

Tanpa pikir panjang Harry langsung mengajak Sheera untuk pergi makan malam disebuah restoran mewah di kota London. Dengan terang-terangan sekali Harry menggandeng tangan Sheera tanpa ragu. Ia membiarkan paparazzi yang sedari tadi mengerubungi dan mengambil foto mereka. Bahkan diantaranya juga melontarkan berbagai pertanyaan pada Harry.
“Hi, Harry. How are you?

“Harry. Apa kau bersedia memperkenalkan gadis yang ada disampingmu?

“Apa ia kekasih barumu, Harry?”

Namun Harry tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum dan menjawab paparazzi yang menanyai kabarnya. Ia sengaja tidak memberi jawaban terlebih dahulu mengenai Sheera agar semuanya terlihat ‘alami’ dan tidak mencurigakan. Karena sebelumnya Harry belum pernah memberikan sinyal apapun mengenai gadis baru tersebut yang telah masuk dalam kehidupannya.
“Aku harus bagaimana sekarang?” tanya Sheera hampir berbisik. Ia terus menerus melirik ke jendela luar saat paparazzi terus-terusan mengambil foto mereka.

“Bersikap biasa saja. Well, kau mau pesan apa?”

“Apa saja.”

“Baiklah, aku yang memesankan untukmu kalau begitu.”

Sementara mereka berdua menunggu pesanan, Harry terus mengajak Sheera bicara. Sesekali ia menyuruh Sheera menyengir lebar dan tertawa seperti orang gila. Jujur saja Sheera merasa aneh karena ia harus berpura-pura bahagia padahal sama sekali tidak ada yang lucu ataupun menyenangkan.
“Rahangku keram, Harry.” tutur Sheera dalam cengirannya yang begitu lebar.

Harry hanya terkekeh melihat ekspresi Sheera yang menggemaskan. “Alright. Bagaimana kalau aku menceritakan sebuah lelucon untukmu?”

Sheera mengangkat kedua alisnya, “Setauku kau tidak pandai melucu, Harry Styles.”

“Baiklah, bagaimana kalau aku menceritakan pengalamanku saat kami pergi ke Jepang?”

“Boleh saja.”

“Jadi waktu itu kami pergi mengelilingi kota. Aku dan Zayn mendatangi sebuah restoran Jepang. Lalu Zayn memakan gurita. Dan rasanya aneh sekali.”

Kini Sheera memasang tampang bingungnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang Harry bicarakan.
Dimana sisi menariknya? Batin Sheera.

“Okay, lalu?” Sheera masih berusaha untuk mendengar cerita Harry yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Semua orang tau itu.

“Aku makan udang waktu itu. Aku baru tau bahwa tempura rasanya sangat enak. Kapan-kapan kau harus mencobanya.”

Sheera memaksakan dirinya untuk tersenyum, ia tidak pernah menjalani malam yang begitu membosankan seperti ini sebelumnya.

Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Harry pun kembali memulai pembicaraan sembari menyantap makanan pembukanya.
“Apa kau tidak salah?” tanya Harry ketika ia melihat Sheera memakan desertnya terlebih dahulu.

“Ada apa memangnya?”

“Kau menjadikan puding coklat sebagai makanan pembuka?”

Sheera tergelak, “Aku tidak peduli apa kata orang. Tapi aku tipe gadis yang selalu mendahulukan kebahagiaan. Kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Jika tiba-tiba aku mati beberapa menit lagi, setidaknya aku sudah memakan desert-ku.” Sheera menyengir lebar kali ini.

Harry tergelak mendengar jawaban Sheera. Terdengar konyol, namun ada benarnya juga. “You’re so unique. I like you.”

Sheera langsung tersedak mendengar ucapan Harry. “You said what?”

“I like you.” Ujar Harry enteng.

Sementara itu wajah gadis yang ada dihadapannya tersebut malah bersemu merah. Harry adalah pria kedua yang berkata ‘suka’ padanya—setelah Carl tentunya.
.....................................................................................................................................................


-Sheera’s POV-
See? Carl is angry with me!
Setelah melihat acara tv siang tadi Carl langsung datang ke rumahku dan meminta penjelasan mengenai apa yang telah terjadi semalam.
“Ini hanya sekedar drama, Carl. Percayalah padaku. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Harry. Ia yang—“

“Tapi kau kekasihku, Sheera! Mana mungkin aku mau berbagi dengan pria lain?! Aku tidak peduli apakah ini sekedar drama atau bukan! Tidak kah kau memikirkan bagaimana perasaanku saat melihat kemesraanmu dengannya siang tadi?!”

“Tentu aku—“

Lagi-lagi ucapanku terpotong saat mendengar seseorang mengetuk pintuku.
“Nona Sheera apa kau sedang berbicara dengan seseorang?” sahut Anna.

Shit.
“No. I just...I just read a book loudly.” I lie.

“Can I come in?”

Oh no.
“Carl, I’m so sorry. You have to go now.”

Carl hanya memutar bola matanya lalu menghela napas dalam-dalam. Kemudian ia langsung meloncat keluar dari balkon kamarku. Detik itu juga Anna membuka pintu kamarku dan membawa senampan teh.
“Aku membawakan teh untukmu. Ini sudah waktunya bukan?” tuturnya sambil menaruh secangkir teh di meja kecil dekat pintu balkonku. “Ngomong-ngomong kau membaca buku apa?”

“Uh...Romeo and Juliet.” Dustaku.

Well, kau ternyata pintar juga meniru suara laki-laki. Aku sempat mengira bahwa kau memasukan seseorang ke kamarmu.” Anna terkekeh selama beberapa saat. “Baiklah, kalau begitu aku kembali ke dapur dulu.”

Aku mengangguk pelan dan tersenyum simpul padanya.
Damn, nyaris saja!
......................................................................................................................................................

“Mengapa aku yang harus bertanggung jawab?? Hey, ini kesepakatan kita berdua. Kita tidak pernah membicarakan soal kekasihmu itu, okay? Jadi dia bukan urusanku.” Tutur Harry.

Sialan.
Ini sudah satu minggu sejak Carl tidak datang menengokku. Bahkan aku sudah berusaha untuk menghubunginya tapi Carl justru me-reject nya.

“He’s my boyfriend, stupid!”

“So what? That’s your bussiness. Not mine. Sorry.”

What the heck?!
“Baiklah. Kalau begitu aku berhenti menjadi kekasih bohonganmu.” Aku langsung mengambil tasku dan pergi meninggalkan rumahnya.

“Whut? You can’t!” Harry langsung meraih tanganku sebelum aku sempat menyentuh gagang pintu rumahnya.

“Of course I can! Kau sudah menghancurkan hubunganku dengan Carl.”

Harry memutar bola matanya, “Kita baru mengkonfirmasi hubungan ini dua hari yang lalu. Apa kata orang-orang jika aku berkata bahwa hubungan kita telah berakhir, huh?”

Aku tergelak, “So what? That’s your bussiness. Not mine. Sorry not sorry.” Ujarku sarkastik. Aku langsung menghempaskan tangan Harry dan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Aku membanting pintunya hingga menimbulkan suara dentuman yang begitu keras.


-Harry’s POV-
F*ck!
Sekarang aku harus bagaimana? Semua rencanaku bisa gagal jika Sheera tidak mau berkompromi denganku lagi. Argh! Ini semua gara-gara pacar bodohnya yang sialan itu. Lagi pula mengapa Sheera bisa menjadikan pria seperti Carl sebagai kekasihnya sih?

Lihat saja penampilannya yang urakan. Well, sorry. Tapi memang begitu kenyataannya. Aku heran dengan gadis ini. Seleranya benar-benar buruk. Aku yakin jika mereka benar-benar putus nantinya, pria yang akan menjadi kekasih Sheera selanjutnya tidak akan kalah jelek dan bodohnya seperti Carl. Lihat saja....
......................................................................................................................................................

“Kalau ternyata kekasih selanjutnya adalah kau sendiri bagaimana Harold?” tutur Louis. Detik itu juga Niall dan Zayn langsung tertawa puas.

“No way. She’s annoying. I won’t date her. Never.”

“Tapi kau sudah menghancurkan hubungan mereka Hazz. Remember, karma does exist.” Ujar Liam.

“Tapi karma tidak pernah berlaku bagiku.”

“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Zayn.

Aku hanya mengangkat bahu. Aku masih belum memikirkan apapun.

“Mengapa tidak kau datangi saja si Carl itu? Lalu katakan padanya bahwa kau ingin meminjam—No, that’s sounds rude­­—kalau begitu katakan padanya bahwa kau—.”

“You’re fucking crazy, Lou.” I cut him off. “But maybe you’re right.”

Louis, Liam, Zayn, dan Niall langsung saling bertukar pandang. Sementara itu aku langsung bangkit dari sofa dan meraih kunci mobilku.

Maaf, Sheera.... Tapi aku benar-benar harus melakukannya....
......................................................................................................................................................

“Apa katamu?! Hey, kid, dengarkan aku. Kau tidak akan pernah bisa membuat Sheera jatuh cinta padamu. Ia tidak akan pernah memilihmu.” Tutur Carl tepat di hadapanku.

“I’m sorry big man. But she will. Just ask her.” Aku menyengir lebar padanya. “See you later.” Aku langsung masuk kembali ke dalam mobilku.

Tidak aku sangka aku tidak perlu repot-repot meminta alamat rumah Carl pada Sheera. Ternyata Carl baru saja menemui Sheera di rumahnya. Tepat saat ia hendak pergi dengan sepedanya aku muncul di halaman belakang rumah kediaman Hastings. Dan TADA! Aku berhasil mengatakan apa maksud dan tujuanku pada Carl. Aku yakin jika kau melihat tampang Carl yang begitu kesal padaku tadi, kau pasti akan tertawa lebar—itu pun jika kau berada di pihakku.

Tapi sekarang bagaimana caranya agar Sheera bisa jatuh cinta padaku? Well, sebenarnya itu tidak perlu, tapi hanya itu satu-satunya cara agar Sheera bersedia berkompromi denganku lagi. Tapi apakah itu mungkin? Karena aku yakin setelah ini ia akan marah besar padaku dan enggan untuk melihat wajahku lagi.

Aku segera merogoh saku celanaku dan melayangkan jari-jariku di ponsel.
“Yes, Harry?” ujar seseorang di sebrang telpon.

“Hey, Matt. Would you do me a favor?”

“Hmm...sure. ‘Sup?”

“I want you to make a scandal. Not for public. Just for my girlfriend.”
.....................................................................................................................................................


-Sheera’s POV-
Aku terkejut setengah mati saat Carl datang pagi-pagi sekali dan membentakku. Ia seperti orang gila. Ia marah-marah seorang diri. Aku bisa melihat amarahnya yang begitu berkobar padaku. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?

Padahal baru semalam kami berbaikan dan kini Carl kembali lalu menyalahkan aku lagi? Tidak, bukan hanya itu. Ia meminta putus dariku!

“No, Carl...Please, tell me what happened? Mengapa kau tiba-tiba seperti ini padaku?” tanyaku kalap.

Carl justru tergelak dan menyengir sinis, “Kau wanita murahan.”

WHAT?!
“Excuse me?! You said what?!” aku membelalakan mataku padanya. Tidak aku sangka, Carl berkata sekeji itu padaku??

“Aku seharusnya tau bahwa kau akan lebih memilih artis itu ketimbang aku, Sheera. Sudahlah, aku muak dengan semua alasan drama yang kau lontarkan. Tidak aku sangka ternyata ia juga sering mengunjungimu setiap hari.”

Apa? Sebenarnya apa yang sedang ia bicarakan sih? Aku tidak mengerti sama sekali!
“What are you talking about?!”

“Katakan saja, kau memilih aku atau dia?”

See? Aku tidak tau sebenarnya Carl sedang membicarakan hal apa. Tiba-tiba saja ia berkata bahwa aku wanita murahan?! Lalu sekarang ia bertanya aku memilih siapa?!
“Him.” Ujarku tanpa berpikir. Mungkin saat ini emosikulah yang sedang mengontrol kata-kataku sekarang. Aku sakit hati saat Carl berkata bahwa aku adalah wanita murahan. “Is that clear?”

Carl memainkan bibirnya. Kemudian ia berdecak pinggang dan bergumam, “Alright. I’ll leave now.”
......................................................................................................................................................

Aku menangis sekeras mungkin dihadapan kelima pria bodoh yang melihatku dengan pandangan prihatin. Pada siapa lagi aku harus menangis? Tidak mungkin pada Anna atau mom. Aku tidak memiliki teman dekat. Saat ini mereka berlima lah yang memiliki hubungan paling dekat denganku setelah satu minggu hidup dengan keadaan yang penuh dengan drama.
“Sudahlah Sheera. Mungkin setelah ini kau bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari Carl.” Tutur Niall.

“Aku tidak menyangka ada pria sekejam itu. Kau tau, berkata bahwa kau adalah wanita murahan? That’s so rude.” Timpal Zayn.

“Mengapa kau tidak mencoba memulai hubungan dengan Harry saja?” lanjut Louis.

Aku langsung berhenti menangis dan menatapnya nanar. “How could you?!”

“Hey, kan kau sendiri yang berkata bahwa kau memilihnya. Bagaimana sih?”

“Kan sudah kubilang saat itu aku sedang emosi! Aku tidak tau apa yang harus kukatakan, Lou!”

So move on. Tidak ada gunanya kau menangisi pria yang sudah berkata sekasar itu padamu, Sheera. Kau gadis yang manis. Kau tidak layak mendapatkan pria seperti itu.” kini Harry angkat bicara. Aku tidak tau ia bisa berkata sedalam itu. “Populasi manusia masih banyak. Kau bisa memilih siapapun yang kau mau.”

“Termasuk Harry. Hahaha!”

“Seriously, Lou. That’s not funny at all.”

“Alright. Sorry.” Kulihat bibirnya yang bergetar menahan tawa.

Well, apa kau merasa lebih baik sekarang?” tanya Liam.

Aku mengangguk pelan padanya. Biasanya jika aku memiliki sebuah masalah dengan Carl, aku selalu memendamnya seorang diri. Aku tidak pernah mengatakannya pada orang lain karena mereka tidak akan pernah setuju dengan hubungan kami. Pernah suatu hari Carl muncul di hadapan mom dan dad. Saat itu niatnya Carl ingin meminta restu dari mereka, tapi melihat wajah Carl saja dad tidak mau. Bukan karena status sosial—mengingat Carl juga seorang anak dari pengusaha sukses—tapi dad tidak suka dengan attitude dan penampilan Carl yang urakan.

Kini aku merasa sedikit bersyukur memiliki kelima—maksudku keempat pria yang ada di hadapanku sekarang. Mereka sungguh seorang pendengar yang baik. Sebenarnya Harry juga, hanya saja aku masih sedikit kesal dengannya. Bukankah ia penyebab dari semua ini?

“Hey.” Sahut Harry menghampiriku. Aku hanya mendongakkan wajahku ke arahnya. “Ada yang ingin kutunjukan padamu. Bisa kau ikut aku?”

Harry membawaku ke balkon sementara Niall dan Zayn asik bermain Wii, lalu Liam sibuk dengan ponselnya, kemudian Louis terlihat sedang menghubungi kekasihnya, Eleanor.

“Ada apa?” tanyaku.

Detik itu juga Harry menyodorkan ponselnya ke arahku. Ia memperlihatkan sebuah foto yang membuat mulutku terbuka lebar.

What the hell is this??
“Dari mana kau mendapatkannya?” suaraku kembali bergetar. Lagi-lagi hatiku serasa diiris-iris saat melihat foto-foto Carl dengan dua orang gadis berambut pirang di sebuah bar. Bahkan aku sempat lupa bernapas saat melihat foto Carl dan salah seorang gadis pirang itu sedang bercumbu. Tunggu, bukankah ini semalam? Carl mengenakan kemeja yang sama seperti yang ia kenakan semalam!

“Dari temanku.” Jawab Harry. “Aku mendapatkannya semalam.”

“How?” kini aku menatap mata hijaunya dengan kalap.

“Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja aku mendapatkannya tengah malam tadi. Well, ternyata dia tidak seperti yang kau pikirkan Sheera. Maafkan aku.”

No. I mean...bagaimana bisa temanmu mendapatkan foto Carl dan mengirimkannya padamu?”

Harry tersenyum padaku, “Kau tidak perlu tau.”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Rasanya aku telah dibodohi. Carl mengatakan aku wanita murahan sementara semalam ia bercumbu dengan dua orang wanita yang tentunya jelas-jelas murahan?!

“You’re welcome.” tutur Harry. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam.

“Harry.” sahutku. Ia langsung berhenti di ambang pintu dan sedikit menoleh ke arahku. “Let’s continue the drama.”
......................................................................................................................................................

Sudah hampir satu bulan aku menjadi kekasih palsu Harry. Aku dihujani banyak cacian, mereka bilang hanya karena aku anak seorang menteri aku bisa dengan mudahnya mengencani seorang Harry Styles. Tapi tidak jarang ada fans yang menyebut dirinya sebagai Sharry shipper—sebuah panggilan untuk orang-orang yang mendukung hubungan kami (Sheera-Harry). Tidak, bukan jarang. Justru Sharry shipper jauh lebih banyak dibandingkan fans yang membenci hubungan kami. Jadi sejauh ini semuanya berjalan dengan cukup lancar.

Aku jamin semua perlakuan para fans padaku tidak separah dengan apa yang mereka lakukan pada Perrie dan Danielle. Mayoritas dari mereka menerimaku dengan baik. Untunglah. Lagipula aku kan hanya kekasih bohongannya saja. Toh, setelah tour mereka berakhir, hubunganku dengan Harry juga akan berakhir.


-Harry’s POV-
Sejauh ini semua rencanaku berjalan lancar. Tidak ada lagi berita miring yang menerpaku. Tidak ada lagi cacian yang mengatakan aku seorang ‘manwhore’, tidak ada lagi gadis-gadis yang digosipkan denganku. Semua media sedang sibuk dengan Sharry.

Tentu saja aku bisa bernapas lega sekarang. Anne bahkan semakin sering mengubungiku hanya untuk menanyakan keadaan Sheera. Ia sangat senang mengetahui bahwa aku berpacaran dengan Sheera sekarang. Begitu pun dengan Mr dan Mrs Hastings.

Sekarang ini aku dan the boys sedang menjalani tour untuk mempromosikan album kedua kami. Aku sengaja mengajak Sheera dalam tour-ku. Awalnya ia sempat menolak karena ia harus kuliah, namun aku memaksanya, toh kuliah juga membosankan bukan? Akan lebih menyenangkan jika ia menghabiskan waktunya bersama kami.

Namun sempat beberapa kali Sheera mengeluh karena merindukan Carl. Tapi aku berusaha untuk membuatnya agar melupakan pria brengsek itu. Ha. Aku sendiri saja awalnya tidak percaya saat Matthew mengirimkan sejumlah foto-foto Carl dengan para gadis penggoda di sebuah bar. Jujur, ini memang sangat memudahkanku tapi sungguh aku tidak ada hubungannya dengan semua foto-foto tersebut. Aku hanya menyuruh Matthew untuk mengambil beberapa gambar dari Carl agar terlihat seperti sebuah skandal, namun ternyata Carl sendiri yang memasukan dirinya dalam masalah.

“Yeay!” seru Louis sambil melambungkan kedua tangannya di udara. “Take off your shirt, Harold!”

Shit. Aku kalah lagi.
Dengan segera aku membuka kausku dan melemparnya ke belakang. Kami berenam sedang berkumpul sambil bermain kartu di kamar hotel. Sheera sangat hebat dalam hal ini. Belum satupun dari pakaiannya yang ia lepaskan. Sementara aku sudah hampir telanjang dengan hanya menyisakan boxer-ku.

“Something wrong, miss?” tanyaku begitu aku menangkap Sheera sedang memperhatikanku—maksudku, tubuhku. Ha!

“Wh-whut? N-no. Nothing.” Jawabnya terbata-bata. Ia langsung menundukkan wajahnya dan kembali mengocok kartu.

Aha. Aku jadi tertarik untuk menggodanya. “Do you like my tattoos?”

“Lumayan.” Ujarnya sambil mengangkat kedua alisnya. Kemudian ia membagikan beberapa kartunya pada kami.

“This one is my favorite.” Aku menunjukan sebuah tattoo bergambar kapal besar yang ada di lenganku.

Her jaw drops off to the floor. “Wow.” She flipped her hair now. “Cause of her?”

No. Tidak ada hubungannya dengan gadis itu. Hanya saja aku berpikir gambar kapal ini begitu keren. Bagaimana menurutmu?”

“Cool.” Jawabnya singkat sambil kembali menundukan wajahnya.

“Yeah, I know, ryt!” Aku menyengir lebar dan kembali memulai permainan.

“FINALLY!” teriak Louis. “Sheera you lose!”

Aku langsung memalingkan wajahku ke arah Louis lalu kembali ke arah Sheera. Kulihat wajahnya yang kebingungan. Jujur aku ingin tertawa melihatnya. She looks cute.

“Wh-whu-whut? Am I?” ujarnya terbata-bata.

“Come on! Take it off, Sheera Hastings!”

Kini Sheera menggigit bibir bawahnya. Ia meremas ujung kemejanya. Ia terlihat ragu untuk melepaskan pakaiannya di hadapan kami. Ah. Good girl.
“No, stahp.” Aku meraih tangannya yang gemetaran. “Ini sudah malam, waktunya kau untuk tidur. Come on.” Aku mengajaknya berdiri dan kuraih pakaian dan celanaku tanpa mengenakannya terlebih dahulu.

Oh no Hazz. Kau tidak seru ah!” erang Niall.

“Sejak kapan kau menjadi bocah mesum, Nialler?” aku terkekeh lalu menarik tangan Sheera untuk meninggalkan kamar Niall dan Liam.

“Dan sejak kapan kau tidak tertarik melihat perempuan membuka bajunya, Hazz?” timpal Louis. Detik itu juga ia, Niall, dan Zayn menertawakanku.

“Good night, Sheera!” seru Liam.

Sheera memalingkan wajahnya ke arah mereka berempat, “Night.”


-Sheera’s POV-
“Thanks, Harry.” tuturku begitu Harry mengantarku hingga ke depan pintu kamar.

“Don’t mention it.” Ia menyengir lebar padaku. “Good night.”

“Good night, curly.” Aku pun membuka pintu kamarku dan langsung menyalakan saklar lampu. Tapi tunggu. Mengapa lampunya tidak mau menyala? Aku menolehkan kepalaku dan kulihat Harry masih berdiri di depan pintu kamarku.

“Any problem?” tanyanya.

“Lampunya mati.”

“Tunggu sebentar, biar kuhubungi pengurus hotelnya.” Harry langsung berjalan masuk ke dalam kamarku dan meraih telpon. “Shit.”

“What?”

“Telponnya mati. Well, biar kuhubungi dari kamarku. Kau tunggu disini.” Tuturnya.

Tunggu? Disini? Seorang diri dalam kegelapan? Gila!
Dengan segera aku mengikutinya dari belakang. Kutatap punggungnya yang telanjang itu. Sadar bahwa aku membuntutinya hingga ke kamar, Harry langsung memutar tubuhnya ke arahku.
“What’s wrong?” he frowned.

“Aku takut gelap.”

Harry tergelak, “Kau bisa takut juga ternyata?” kini suara tawanya lebih keras. Dan kurasakan wajahku memanas dan memerah karena malu. Lenyap sudah predikatku sebagai gadis ‘kuat dan liar’. “Well, kau bisa tidur di kamarku malam ini kalau begitu.”

“APA?!”

“Apa?” Harry malah balik bertanya.

“Kau bilang aku tidur di kamarmu malam ini?”

“Ya. Memang kenapa? Ada yang salah? Kau bilang kau takut gelap kan? Atau kau tetap mau tidur di kamarmu sendiri?” ia menyengir lebar.

Kini aku bergeming. Tidak ada pilihan lain. Sial.

“Alright.” Tanpa banyak pikir aku berjalan melewati Harry dan membaringkan tubuhku di kasurnya. Detik selanjutnya Harry menutup pintu kamarnya dan menyusulku. “Hey. Kita tidur satu ranjang??”

Harry memalingkan wajahnya ke arahku, “This is my room so this is mine. And I’ll share my bed with you. Is that clear?”

Aku hanya membuka mataku lebar-lebar dan menegapkan tubuhku.

“What?” tanyanya. “Jangan bilang kau ingin aku tidur di sofa.” ia tergelak. Namun tidak ada yang berubah dari ekspresi wajahku yang masih shock. “Oh my God. No, you can’t. Sudahlah Sheera, aku tidak akan menyentuhmu. Promise.”

“Tapi kau—“

Hey, come on. Jangan mulai.” Sela-nya. “Tidurlah.”

Aku menelan ludah sebelum kembali membaringkan tubuhku. Aku meraih sebuah guling dan menaruhnya di tengah-tengah kami. “Jangan berani-berani melewatinya.”

“Pffftt. Okay. I won’t.” He chuckled.

Aku langsung memutar tubuhku dan memunggunginya. “Good night, Harry.” kupejamkan kedua mataku yang memang sudah terasa berat sejak awal.

“Good night, sweetheart.”

Sontak, aku membuka kedua mataku lagi. Ia bilang apa tadi? Sweetheart?
Aku memutar kepalaku dan kulihat Harry yang sudah memejamkan matanya. Damn, he looks so cute when he sleeps.

Wait, wait, wait. What are you thinking?! Stahp, Sheera. Don’t go any further!
......................................................................................................................................................

Entah apa yang telah terjadi padaku. Sejak kejadian malam itu aku jadi sering salah tingkah di hadapan Harry.

Ya Tuhan, Sheera! Kau hanya tidur satu ranjang dengannya dan tidak terjadi apa-apa mengapa kau jadi seperti seorang idiot sih??

Tapi, ya ampun. Ini sudah satu minggu dan setiap kali Harry muncul di hadapanku aku selalu menghindar. Dan memang jujur saja saat itu aku tidak bisa tidur tenang. Beberapa kali aku membuka mataku dan menoleh ke arahnya hanya untuk melihat wajahnya saat sedang tidur. Memperhatikan lekuk-lekuk wajahnya yang membuat jantungku berdegup kencang. Melihat rambut keritingnya yang sangat ingin kusentuh.

Ah Sheera! Kau ini kenapa??

“Are you done yet, babe?” tiba-tiba Harry masuk ke ruang make-up dan menghampiriku. Kami sudah kembali ke London untuk beristirahat selama beberapa hari, dan hari ini aku diminta olehnya untuk datang menemaninya ke sebuah acara awards yang artinya aku akan bertemu dengan banyak artis terkenal?? WOW.

“Satu sentuhan lagi Harry.” jawab Lou Teasdale yang sedang menata rambutku. “Now it’s done. She’s flawless.”

“Perfect.” Timpal Harry sambil menyengir lebar padaku dari pantulan cermin. “Come on, babe.”


-Harry’s POV-
“Harry.” sahut Sheera.

“Yes, babe?”

Geez. Bisakah kau berhenti memanggilku ‘babe’?”

“Why, babe?” aku terkekeh berusaha menahan tawa.

Sheera memutar bola matanya dan memandangi jalanan dari jendela mobil. “Terserah.” Gumamnya.

Sesampainya di Red Carpet, aku, the boys, dan Sheera langsung turun dari dalam limo. Kupersilahkan Sheera menuruni mobil bak seorang putri. Awalnya Sheera menolak untuk menemaniku di acara awards, tapi aku memaksanya. Mau tidak mau ia harus ikut. Mana lagi Taylor juga datang di acara penghargaan ini. Tentu saja aku harus membawa Sheera bersamaku bukan?
“Jangan lupa untuk tersenyum dan jaga cara berjalanmu.” Bisikku tepat di telinga Sheera.

“Kau sudah mengatakannya 12 kali sejak siang tadi, Harry.”

“Kau menghitungnya?”

“Menurutmu?” ia memutar bola matanya dariku. Well, kalau bukan karena penampilannya yang mempesona dan menghipnotisku malam ini, mungkin aku sudah kesal dengannya sekarang.

Kami berlima pun datang di red carpet dan mengambil beberapa foto, lalu aku menarik Sheera untuk berjalan di red carpet bersamaku. Kami melakukan beberapa pose intim di hadapan media. Kulingkarkan lenganku di pinggulnya, dan Sheera menaruh sebelah tangannya di dadaku. Kami tersenyum lebar bak pasangan sungguhan yang terlihat begitu bahagia. Lalu detik itu pula Taylor muncul dan berjalan red carpet—seorang diri.


-Author’s POV-
Acara penghargaan musik malam ini terkesan sedikit canggung bagi Sheera. Walaupun ini pertama kalinya ia menghadiri acara semacam ini, tapi ia memang merasa tidak begitu menikmatinya. Selain karena ia harus mengenakan sebuah gaun yang ketat dan khawatir ia akan merusak gaunnya sendiri, sedari tadi Sheera menangkap Harry yang beberapa kali melirik ke arah Taylor yang duduk cukup jauh dari mereka berenam.
“Harry, are you okay?” tanya Sheera.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Well, sebentar lagi kami harus tampil. Aku dan yang lain harus ke backstage sekarang. Apa kau mau ikut dengan kami?”

Sheera mengangguk. Ia tidak mau duduk seorang diri di bangku penonton sementara kursi di sampingnya kosong semua.

Begitu masuk ke dalam backstage, Sheera menunggu di ruang make-up One Direction. Entah mengapa kali ini perasaan Sheera menjadi tidak enak. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu. Berkali-kali ia bergumam dan mengulang perkataan yang sama di dalam hati dan pikirannya.
There’s nothing to be worried. There’s nothing to be worried.’

‘My dress still looks fine, my hair isn’t messy, so everything is under control. You’re okay. But, what happen with you Sheera?’ Batinnya.

Ini sudah hampir lima belas menit dan the boys belum kembali dari atas panggung? Padahal jelas-jelas dentuman musik ‘Kiss You’ sudah lenyap. Tapi tiba-tiba Sheera merasa dadanya sesak. Ia pun memutuskan untuk menunggu the boys selesai tampil di luar ruang make-up. Namun sesuatu langsung membuat mulutnya terbuka lebar.

Ya. Harry flirts with Taylor on the corner.

Mereka terlihat terkekeh dan tertawa bersama. Terlihat begitu bahagia.


-Sheera’s POV-
Apa aku salah liat? Mereka berdua....apa yang mereka lakukan??
“Sheera?” kudengar suara yang begitu familiar memanggil namaku. Dan benar saja saat aku menolehkan kepalaku ke sumber suara, kulihat Louis datang bersama Niall, Zayn, dan Liam di belakangnya.

“He-hey Lou. Bagaimana perform-nya?”

“Amazing.” Ia tersenyum lebar padaku.

“Apa yang kau lakukan di luar sini?” tanya Liam.

“No-nothing. Well, Liam. I think I should go now.”

“What?” tanya Zayn.

“Kau mau kemana?” timpal Niall.

“Aku tidak enak badan. Well, sampaikan salamku pada Harry. Maaf aku tidak bisa menemaninya hingga—“

“Is that Harry?” Louis cut me off.

Ia menyadari Harry yang sedang berbincang-bincang dengan Taylor di ujung koridor. Detik itu juga aku langsung berjalan melewati mereka berempat dan keluar meninggalkan lokasi. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa mual. Atau mungkin lebih tepatnya muak. Aku mengerti sekarang. Harry ‘menggunakanku’ bukan untuk menghindari berita-berita miring, tapi untuk membuat Taylor cemburu sehingga ia bisa mendapatkannya kembali.


-Harry’s POV-
Ada sesuatu yang aneh pada Sheera. Sudah beberapa hari ini ia tidak banyak bicara. Ia berubah. Ia bukan hanya menghindariku saja, ia menjawab pertanyaanku dengan sinis. Ada apa dengannya?

Ia marah padaku? Hey, seharusnya aku yang marah padanya! Ia yang begitu saja meninggalkan acara penghargaan tempo lalu! Tidakkah ia berpikir bahwa kelakuannya itu membuat banyak media bertanya-tanya karena kami pulang secara terpisah?

“Sheera!” sahutku. Kuraih tangannya dan memutar tubuhnya yang begitu ramping itu. “What happened with you? Are you mad at me?” I frowned.

“No.” Ujarnnya singkat. Bahkan menurutku itu bukan sebuah jawaban, tapi hanya sebuah gumaman yang tidak ada artinya.

“Oh yes you are. Tell me, what happened with you?”

Sheera menangkis tanganku dan menatapku dalam-dalam. “I’m tired.”

“Of what?” tanyaku bingung.

“You. I’m tired of you Harry.” bibirnya bergetar. Dapat kulihat air mata yang tertimbun di ujung matanya. “Aku ingin mengakhiri semua ini. Katakan saja pada media bahwa aku punya kekasih lain dan lebih memilihnya dibanding kau, Hazz, jadi image orang-orang mengenaimu tidak akan jatuh.” Tuturnya terburu-buru. “I’m sorry.” Ia langsung memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar.

What the hell is wrong with her??
......................................................................................................................................................

“APA?! MENGAPA KALIAN TIDAK MENGATAKANNYA PADAKU SEJAK DULU?!” bentakku pada keempat sahabatku. Mereka memasang tampang tidak berdosa—atau lebih tepatnya bodoh.

“Karena kami pikir mungkin itu tidak ada hubungannya dengan semua ini, Hazz. We’re so sorry.

“Jk. Alright, yang penting sekarang kalian sudah mengatakannya padaku. Thanks.” Aku langsung berjalan masuk ke dalam kamar. Aku duduk di tepi ranjang dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Terlihat seperti orang depresi. Ya. Memang.

Liam dan yang lainnya baru berkata padaku bahwa Sheera pergi begitu melihat aku dan Taylor sedang berbincang-bincang berdua di backstage tempo lalu. Awalnya aku memang mengira hal seperti itu tidak akan terjadi, tapi Taylor yang mulai menyapaku dan mengajaku mengobrol. Akan terkesan kasar jika aku menolaknya bukan?

Tapi ya Tuhan. Mengapa Sheera sampai marah? Bahkan ia sampai pergi meninggalkan apartemen kami begitu saja beberapa hari yang lalu. Apa benar ia marah karena hal ini? Mengapa? Is she jealous?

Kuraih ponselku di saku dan menjentikan jari-jariku di layar ponsel.
To: Sheera
From: me
I’m so sorry. I know why you mad at me. But that was not like it seemed, Sheera.
.xx


Okay, sent.
Wait, No.
Kalau aku salah dan terlalu percaya diri bagaimana?

Aku kembali menghapusnya dan kembali mencari kata-kata

To: Sheera
From: me
Are you mad at me cause of her? Taylor?


Ya. Sent.
Wait, no no no.
Shit! Aku harus bilang apa??

To: Sheera
From: me
I need to talk to you.
Please.
Meet me at Starbucks in ten minutes.
.xx


This! Sent.
......................................................................................................................................................

Sudah setengah jam aku menunggunya di Starbucks, tapi Sheera tidak kunjung muncul. Kulihat jam di ponselku berkali-kali dan memperhatikan langit dari jendela besar. Ini sudah hampir larut malam.

Sambil menunggu Sheera, aku meladeni beberapa fans yang meminta foto bersama.
“Aku senang melihatmu bersama dengan Sheera. You both are so cute. You’re so fit togehter.” She smiled at me.

Aku membalas senyumannya, “Thanks.”

“I think she’s so lovely. Please get married.” Ujar temannya yang satu lagi.

Aku tertawa kecil, “Yeah, she is. Well, akan kusampaikan semua pujian kalian padanya.”

“Thanks Harry.”


Kini sudah hampir satu jam dan Sheera masih belum menunjukan batang hidungnya. Dengan segera kuraih ponselku dan mencoba untuk menghubunginya, namun detik itu juga seorang gadis dalam balutan blazer berwarna putih dan celana legging berwarna hitam muncul. Rambut hitamnya yang tergerai bebas membuat mataku terpaku memandanginya. She’s so beautiful. Stunning.

Kemudian gadis itu meraih ponsel di dalam tas Chanel-nya dan memandangku dengan tatapan bingung.

“Sorry I’m late.” Gadis itu datang menghampiri dan duduk di kursi kosong di hadapanku.

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk menyadarkan diri, “It’s okay. Aku juga baru datang.”

“Jadi ada apa?” tanyanya to the point.

“Uh...ka-kau m-mau minum apa?”
Well, mengapa aku terbata-bata seperti ini?

“Aku datang kesini karena kau bilang kau ingin bicara denganku, Harry. Bukan untuk minum kopi.”

“Alright, sorry.” Aku berdeham kali ini, “Well, aku ingin minta maaf padamu, Sheera. Aku tau kau masih marah padaku karena...”
Tunggu, apa kau akan mengatakannya dengan begitu percaya diri Harry? Kau konyol!

“Apa?” Sheera mengerutkan keningnya.

“Karena....” aku mati-matian berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat. “Sudahlah, Sheera, kau jujur saja. Kau marah padaku karena melihatku....” lagi-lagi aku tidak sanggup menyelesaikan kata-kataku.

Sheera tergelak dan menyipitkan matanya ke arahku, “Kau ini kenapa?”

“Um...apa kau marah karena...”

“Katakan saja Harry. Walaupun akan terdengar bodoh pun aku tidak akan marah. Katakan.”

Aku menelan ludah, “Kau cemburu melihatku berbincang-bincang dengan Taylor?”

Kini matanya terbelalak ke arahku. Bahkan Sheera membuang wajahnya lalu menunduk. Tidak lama kemudian ia tergelak dan kembali menatapku dengan ragu, “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

“Karena memang terlihat seperti itu.”

Lagi-lagi Sheera membuang mukanya, “Jadi kau masih menyukainya?” tanyanya parau.

“Whut?” aku terkekeh sekarang.

Sheera memandang ke arahku lagi, “Mengapa kau tertawa? Ada yang lucu?”

“Ya. Kau.” Suara tawaku lebih keras kali ini. “Ya Tuhan, Sheera mengapa kau berpikir seperti itu? Tentu saja aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Saat itu aku tidak tau harus bagaimana, ia menyapaku lalu mengajaku sedikit berbincang-bincang. Akan terkesan begitu tidak sopan jika aku menghindarinya. Demi Tuhan, Sheera. Kami tidak—“ She cut me off.

“But it looked like you were flirting with her.”

Aku tergelak, “Setiap kali aku mengobrol dengan wanita, selalu terlihat seperti itu. Bukankah kau tau itu, Sheera Hastings? Percayalah, tidak ada yang kami bicarakan selain masalah karir dan menanyakan kabar satu sama lain.”

Sheera kembali menundukan wajahnya. “Alright.”

“Jadi...” aku tidak menyelesaikan kata-kataku.

Sheera kembali mendongakkan wajahnya, “Jadi apa?”

“Kau benar-benar cemburu?”

Kali ini gilirannya yang terkekeh, “You’re ridiculous.” Detik itu pula Sheera berdiri dan berjalan meninggalkanku. Ada yang salah?

“Hey, where are you going? Sheera....Sheera!” aku berdiri dan langsung mengejarnya keluar. Kuraih tangannya dan memutar tubuhnya, “Come back, please.”

Sheera mengerutkan keningnya, “Aku—“

“I need you. Come on.” Kutarik tangannya dan menyuruhnya masuk ke dalam Range Rover-ku.

“Your typical.” Gumamnya. Aku hanya bisa terkekeh dan menginjak pedal gas menuju apartemen.


-Sheera’s POV-
Sesampainya di apartemen, the boys menyambut kedatanganku kembali. Sudah beberapa hari kami tidak bertemu dan bercanda bersama. Mereka sudah seperti saudara-saudaraku sendiri.
“So, guys. Besok kita akan terbang ke Scotland.” Ujar Liam.

“WOOHOO! Scotland, baby!” seru Louis.

Semalaman ini kami berenam menghabiskan waktu untuk bermain Wii. Namun karena mataku sudah terasa berat, aku pamit untuk tidur duluan pada mereka berlima. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku dan menyalakan saklar lampu.

Mengapa tidak mau menyala?

Kupencet saklar lampunya berkali-kali namun tetap saja tidak mau menyala. Mengapa ini selalu terjadi padaku??

“I’ll share my bed.” Tutur Harry dengan suara seraknya yang khas itu. Aku memutar tubuhku dan kulihat senyum Harry yang menyeringai.

“Oh no.” Gumamku. Aku membuka mataku lebar-lebar lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya yang berada tepat di samping kamarku.

Dapat kudengar Harry terkekeh lalu berjalan membuntutiku dari belakang. “Mengapa kau mengikutiku?”

“Aku juga mau tidur.” Ujarnya sambil membuka pakaian dan celananya.

Aku hanya memutar bola mataku. Untung saja sepulang dari Starbucks tadi aku sudah berganti pakaian santai. Aku jarang tidur dengan piyama.

Aku pun membaringkan tubuhku di kasur dan menaruh sebuah guling di tengah-tengah. Tidak lama kemudian Harry menyusulku.
“Hey.”

“Hmm?” gumamku sambil memunggunginya.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ya.”

“Apa yang kau suka dari Carl?”

Sontak aku langsung memutar tubuhku dan menatapnya heran. “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau jawab dulu pertanyaanku.”

“No, you first.”

“But I ask you first. Come on, answer it Sheera.”

Ugh. Okay he wins.
“Aku merasa nyaman berada di dekatnya.”

“Lalu?”

“Itu saja.”

“Apa kalian sudah ber—“

“Sekarang jawab pertanyaanku.” Aku memotong ucapannya.

“Tidak. Tunggu dulu. Apa ia sudah menidurimu?”

Sontak aku langsung melemparkan guling yang ada di tengah-tengah kami ke wajahnya. “Mengapa kau bertanya seperti itu?!”

“Hey, apa salahnya? Well, sudahlah aku yakin kalian belum pernah melakukannya bukan? Bahkan aku ragu jika ia sudah menciummu.” Ia tergelak.

Aku tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Bagaimana ia bisa tau??
“Ya Tuhan, Sheera? Jadi benar bahwa kalian belum pernah berciuman?” kini tawa Harry meledak. “He’s a gay?” Ia begitu puas menertawaiku sementara pipiku merah padam karenanya.

“Terserah kau. Aku mau tidur.” Aku kembali memunggunginya dan menenggelamkan wajahku di bantal.

Aku memang selalu menghindar setiap kali Carl hendak menciumku. Entahlah, aku merasa tidak pernah siap setiap kali ada kontak fisik diantara kami. Aku juga tidak tau apa alasannya. Tubuhku yang selalu menolak.
......................................................................................................................................................

Kini sudah empat bulan lamanya drama Sharry berlangsung. Jika sesuai dengan rencana, maka mulai minggu depan aku tidak perlu lagi menjadi kekasih bohongan Harry. Kami akan kembali menjalani rutinitas masing-masing. Tapi, apa yang harus kukatakan pada mom dan dad? Mereka pasti kecewa jika tau bahwa kami putus—atau mungkin bisa dibilang pura-pura putus karena kami tidak pernah benar-benar berpacaran. Mereka begitu menyukai Harry. Sama halnya dengan Anne terhadapku.

“Harry.” sahutku.

“Hmm?” gumamnya. Ia terlihat begitu asik dengan ponselnya. Jarang-jarang ia membalas mention dari fans.

“Haruskah kita memberitahu kedua orang tua kita mengenai semua ini?”

“You don’t need to be worried.” Harry menepuk-nepuk puncak kepalaku yang menyender di bahunya. Ya, seiring berjalannya waktu kami semakin dekat. Bahkan beberapa hari yang lalu Harry mencium pipiku di hadapan paparazzi, tentu saja alasannya untuk memperkuat kabar mengenai hubungan kami.

“Lalu apakah setelah ini semua berakhir kita akan bertemu lagi?”

Kini Harry memalingkan wajahnya ke arahku. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan sorot matanya yang sedikit terkejut.
“Uh—“

Well, maksudku, kau tau. Mereka sudah seperti keluarga bagiku.” Aku melirik ke arah keempat pria yang sedang asik bermain xbox, kecuali Liam yang sedang sibuk dengan laptopnya.

“Tentu saja. Kita bisa bertemu kapanpun.”

Aku tersenyum ke arah Harry. “Glad to hear that.” Aku kembali menaruh kepalaku di pundaknya. Mungkin jika dilihat-lihat, kami sekarang benar-benar seperti sepasang kekasih sungguhan. Tidak ada drama di antara kami.


-Harry’s POV-
Aku tercengang ketika Sheera berkata seperti itu. Kukira ia sedih karena tidak akan bertemu lagi denganku. Jujur, jantungku sempat berdegup kencang. Tapi sayangnya, ternyata itu semua karena keakraban kami lah yang membuatnya sedih jika kami tidak dapat bertemu lagi. Dan aku sedikit kecewa dengan itu.

Tunggu, apakah aku berharap lebih padanya?
No. No way.

But, well, yes way?

Bagaimana jika aku ternyata menyukai Sheera? Ya, aku memang menyukainya. Tapi bagaimana jika ternyata perasaan sukaku lebih dari sekedar teman? Am I?

Well, bukankah itu bagus? Berarti kami tidak perlu lagi merekayasa hubungan ini. Tapi bagaimana jika Sheera tidak merasakan hal yang sama terhadapku?

“Sheera.”

“Ya?”

“Let’s having dinner with me tonight.”
......................................................................................................................................................

“Tumben-tumbenan kau—“ I cut her off.

“Sudah lama kita tidak terlihat pergi keluar berdua. Jadi tidak ada salahnya bukan jika kita pergi makan malam di restoran?”

Sheera menaikan alisnya, “Darimana kau tau tempat ini?”

“Louis. Ia bilang ini tempat yang bagus untuk makan malam romantis di Paris.”

Sheera tergelak, “Tapi mengapa tempat ini sepi sekali?”

“Itulah sebabnya mengapa tempat ini cocok untuk pasangan muda yang dimabuk cinta dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.”

Kini suara tawa Sheera mengeras. Aku suka suara gelak tawanya yang nyaring itu. Selalu membuatku ingin tersenyum saat mendengarnya.
“Kau bisa saja.”

“Sheera.” Aku meraih tangannya. Kulihat sorot matanya yang menatapku canggung.

“A-ada apa?”

“Tidakkah sebaiknya jika kita...” aku berdeham sebelum melanjutkan kata-kataku. “Jika kita memperpanjang jangka waktu mengenai semua ini?”

Sheera tergelak, “Apa maksudmu?”

“Kita masih bisa berpura-pura berpacaran selama enam bulan lagi. Atau mungkin satu tahun?” aku merendahkan suaraku.

Sheera terkekeh sekarang, “Kau gila. Mengapa kau tiba-tiba berkata seperti ini?”

“Karena aku tidak mau jauh darimu.” Ujarku hampir bergumam.

“Huh?”

“Uh, maksudku. Aku nyaman berada dekat denganmu Sheera. Aku ingin kau terus bersamaku—mak-maksudku bersama kami— Kau mau kan?”

“Kau bilang kita masih bisa bertemu—“

“Ya. Tapi aku ingin kau berada di dekatku setiap saat.” Ujarku terburu-buru. “Atau mungkin kita bisa benar-benar berpacaran sungguhan? Bagaimana?”

Namun Sheera justru terkekeh. “Kau bercanda? Mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?”

Tidakkah ia sadar bahwa aku menyukainya?
Hey, Sheera Hastings. Aku menyukaimu.

Argh! Mengapa kata-kata itu begitu sulit untuk dilontarkan??

“Tidak. Lupakan saja. Aku hanya bercanda.” Tuturku.


-Sheera’s POV-
Tidak. Lupakan saja. Aku hanya bercanda.
Mengapa rasanya sakit? Mengingat kata-kata Harry saat makan malam tadi membuatku sedikit kecewa. Tidak. Sangat kecewa lebih tepatnya.

Ah ada apa denganmu Sheera Hastings? Jangan bilang kau jatuh cinta pada seorang Harry Styles! Kau tau kan ia pria yang bagaimana? Bisa-bisa kau lelah sendiri jika benar-benar berpacaran dengannya. Menjadi kekasih bohongannya saja kau sudah dibuat patah hati.

Kini apa yang harus kulakukan? Lagipula mengapa Harry jadi tiba-tiba melantur seperti itu sih?
......................................................................................................................................................

Kukerjapkan mataku beberapa kali dan kulihat Harry bersender di punggung tempat tidur sambil memencet tombol remote. Selama di Paris aku sekamar lagi dengannya karena kamar hotel di tempat kami menginap sudah penuh. Jadi mau tidak mau kami menginap di satu kamar.
“Morning sleepyhead.” Ujarnya tanpa melirik ke arahku sedikitpun.

“Harry.” suaraku terdengar meraung saat baru bangun tidur.

“Ya?”

“What time is it?” Aku bangun dan menegapkan tubuhku.

“11 A.M.”

“Umh...Ada yang ingin aku bicarakan.” kuraih sebelah tangannya yang menganggur.

“Tidak mau. Kau belum mandi.”

Aku menyipitkan mataku. Ugh.
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan menginjakkan kakiku di lantai. Namun Harry justru menarik tanganku hingga membuatku kembali terduduk. “I’m joking. ‘Sup?” He giggled.

“Mengapa semalam kau berkata seperti itu padaku?”

Harry bergeming selama beberapa saat. “Kan sudah kubilang—“

“Ya, aku tau kau bercanda. Tapi, Harry....” aku tidak melanjutkan kata-kataku.

“Apa?” Ia menatapku dalam-dalam. Shit. His green orbs’ driving me insane.

“Tidak. Tidak jadi. Lupakan saja.” aku pun kembali beranjak dari kasur. Namun lagi-lagi Harry menarik tanganku dan membuatku terduduk lagi di tepi kasur. Akan tetapi, detik itu juga aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat di bibirku.


-Harry’s POV-
Sudah hampir satu minggu Sheera menghindar dariku. Sejak tiba-tiba aku mencium bibirnya ia jadi banyak berubah. Kali ini benar-benar berubah. Ia menghindar, menatapku sinis, enggan menjawab pertanyaanku, tidak pernah membalas sapaanku, dan satu lagi—ia jadi sering marah-marah padaku.

Padahal aku sudah minta maaf padanya. Tapi Sheera selalu berkata ‘tidak apa-apa’, ‘tidak perlu kau pikirkan’, ‘aku tidak marah’, ‘aku sudah melupakannya’. Tapi lihat kenyataannya!

Jujur saat aku menciumnya pun aku seperti seseorang yang hilang kendali. Aku nekat melakukan itu karena tidak tahan. Aku tidak tahan memendam perasaan sukaku padanya. Tapi bodohnya aku. Mengapa aku justru menciumnya?

Beberapa hari lagi kesepakatan antara aku dan Sheera akan berakhir. Kami sudah kembali ke London. Dengan keadaan yang begitu canggung antara aku dan Sheera, the boys berusaha untuk selalu mencairkan keadaan selama di pesawat tadi.

Sesampainya di airport kami mengantar Sheera hingga ke rumahnya. Semua pelayannya—termasuk Anna, menyambut kedatangan kami dengan hangat. Tidak terlihat bahwa kedua orang tua Sheera berada di rumah. Ternyata mereka berdua sedang pergi ke New York untuk beberapa hari.

“Ini bukan rumah. Ini istana!” sahut Louis.

“Apa kau punya gudang makanan, Sheera? Biasanya orang-orang dari kalangan konglomerat selalu memiliki ruang pendingin sebesar kamar tidur.” Timpal Niall.

“Ya, we have.”

Seriously? Bisa kau membawaku kesana sekarang juga??”

“Not now.” She giggled. “Jadi apa kalian mau sleep over di rumahku?”

“Why not?” ujar mereka berempat bersamaan penuh semangat.
......................................................................................................................................................

Sheera masih mengacangiku. Sedari tadi ia hanya asik bermain monopoli dengan Zayn, Niall, Louis, dan Liam. Sementara itu aku hanya duduk di balkon kamarnya sambil memandangi langit yang sudah gelap.

Mulai besok Sheera tidak akan bersama kami lagi. Mulai besok Sheera tidak akan berada di dekatku lagi. Mulai besok Sheera tidak akan menaruh kepalanya di pundakku lagi. Dan mulai besok aku tidak akan melihat wajahnya lagi.

Apa kau siap untuk itu Harry?

Tidak. Aku tidak siap. Aku masih ingin bersama dengannya untuk waktu yang lebih lama. Tapi bagaimana caranya? Keadaan kami tidak mendukung. Sheera masih marah padaku. Lalu mau bagaimana lagi?

Tunggu, Harry. Apa kau telah jatuh cinta padanya? Mengapa kau begitu takut kehilangan gadis ini?

“Kau tidak kedinginan? Masuklah. Yang lain sudah mau kembali ke kamar mereka masing-masing.” Tanya Sheera memecahkan lamunanku.

Aku hanya mengangguk padanya lalu bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan kamar Sheera bersama yang lain.
“Sheera.” Aku memutar tubuhku dan menahannya sebelum ia sempat menutup pintu kamar. Aku menelan ludah.

Aku harus mengatakannya...
“Good night.” Tuturku.

Shit! Bukan itu yang mau kukatakan!

“Good night.” Detik itu juga ia membanting pintunya tepat di hadapanku. “Stupid.” Gumamku pada diriku sendiri.
......................................................................................................................................................

Pagi harinya kami berlima menyantap sarapan pagi di ruang makan keluarga Hastings yang begitu besar dan luas. Niall menagih janji Sheera untuk membawanya ke ruang pendingin besar. Entah apakah karena kami sama-sama penasaran atau seperti orang kampung, kami semua mengikutinya untuk melihat lemari pendingin besar yang dipenuhi dengan banyak makanan. Niall terlihat begitu bahagia bahkan ia membawa beberapa untuk dimakan oleh dirinya sendiri.

Setelah mengelilingi rumah kediaman Hastings, kami berlima bersenang-senang di halaman rumahnya. Niall dan Louis langsung membuka baju dan celana mereka lalu meloncat ke dalam kolam.
“Come on, Hazz!” ajak Louis.

Aku menggeleng, “No, thanks.”

Moodku hancur setelah semalam gagal menyatakan perasaanku pada Sheera. Aku hanya bisa memandangi kelakuan bodoh mereka yang kemudian disusul oleh Liam. Zayn yang tidak bisa berenang hanya duduk di kursi santai sambil meminum jus jeruk.
“Mengapa kau tidak bergabung, Hazz?”

“Tidak apa-apa. Hanya sedang malas.” Jawabku tanpa menoleh ke arah Zayn. Namun karena bosan aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah dan mendapati Sheera sedang berbicara dengan seorang pria. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah....Carl.

What the—??

Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, entah apa yang sedang mereka bicarakan, akan tetapi Carl mendapatiku dari ujung matanya. Sedetik kemudian ia datang menghampiriku dan melayangkan pukulannya tepat ke wajahku.
.....................................................................................................................................................

“Harry I’m so sorry.” Sheera menangis terisak-isak sambil mengobati luka lebam yang ada di wajahku.

“It’s okay, Sheera.”

Ternyata Carl datang untuk meminta Sheera kembali padanya. Untung saja Sheera menolaknya, jadi aku bisa bernapas lega. Akan tetapi Carl tau bahwa akulah yang menunjukan foto-fotonya dengan wanita-wanita penggoda di sebuah bar. Well, apakah perbuatanku itu salah? Kurasa Sheera justru berterima kasih karena aku telah menunjukan siapa Carl sebenarnya.

“Jangan menangis.” aku menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Hanya dipukul seperti ini bukan apa-apa bagiku. Bahkan rasanya seperti digigit nyamuk.”

Sheera tersenyum dan tergelak dalam isak tangisnya. “You’re idiot.”

Tiba-tiba aku meringis kesakitan saat Sheera menaruh plester di wajahku. “Kau bilang tidak sakit.”

“Aku bilang seperti digigit nyamuk. Memang kau kira digigit nyamuk itu tidak sakit?”

Sheera hanya menatapku bingung lalu kembali membereskan barang-barang di kotak P3K-nya. Saat ia hendak berdiri aku langsung menarik tangannya hingga ia terududuk kembali. Mata Sheera langsung terbelalak ke arahku. “Kau tidak perlu takut. Aku bukan akan menciummu.” Aku terkekeh selama beberapa saat. “Thank you.”

“You’re welcome.” Sheera tersenyum simpul lalu kembali berdiri dan meninggalkanku di ruang tengah seorang diri.
.....................................................................................................................................................

Hari sudah gelap dan kini kami berlima bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Liam, Louis, Zayn, dan Niall berpamitan pada Sheera dan memeluknya. Begitupun denganku. Keadaan kami yang sudah mulai mencair pun membuatku lebih mudah untuk mengajaknya bicara.
“Kau tenang saja. Mulai besok aku akan mengatakan pada media bahwa hubungan kita sudah berakhir. Serahkan padaku.” tuturku dengan teramat berat hati. “Terima kasih untuk semua bantuanmu, Sheera.”

Sheera menggeleng dan menundukkan kepalanya, “Kau tidak perlu berterima kasih. Justru akulah yang harus berterima kasih padamu—dan keempat sahabatmu. Karena kalian sekarang aku memiliki lima orang teman yang begitu konyol dan menggelikan.”

Teman?
That’s hurt.

“My pleasure Sheera.” Ujar Liam.

“Kami juga senang memiliki teman sepertimu, bahkan aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.” timpal Zayn.

“Come on guys, let’s leave these two lovebirds alone!” tutur Louis sambil memberikan isyarat padaku dari sarat matanya. Detik selanjutnya mereka berempat pergi meninggalkan kami berdua menuju mobil van milik kami.

Aku menelan ludah dan mengacak-ngacak rambutku. “Umm... Sheera.”

“Ya?”

“Ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa?”

Aku menelan ludah sekali lagi. Oh ayolah Harry. Kau seperti belum pernah mengatakan suka saja. Tapi, ya, memang aku mengakui kali ini berbeda. Aku benar-benar menyukai Sheera. Even I fall for her....


The end of the night
We should say goodbye
But we carry on
What everyone’s gone

Never felt like this before
Are we friends or are we more?
As I’m walking towards the door
I’m not sure

“A-aku.” Aku memutar bola mataku lalu menatapnya lagi. “Akumenyukaimu.” Ujarku cepat.

“What?”

“No. I mean— I’minlovewithyou.”


-Sheera’s POV-
Of course I hear that. Sontak degup jantungku langsung tidak karuan. He’s in love with me?
But why? Bagaimana bisa? Ia bercanda?

“Is it another joke like—“

“No. I’m not joking. I’m serious.” He cut me off.

“Tapi—“

“Do you feel the same way with me?”

“I...don’t know.”

Oh please, Sheera. Yes or no? Hanya jawaban itu yang ingin kudengar darimu.” Ujarnya memelas.

“Entahlah Harry. Aku merasa ucapanmu tidak masuk akal.” Aku langsung berjalan melewatinya dan membuka pintu rumahku lebar-lebar. “Kau bisa pergi sekarang. Bisa-bisa mereka meninggalkanmu.”

“They’ll wait for me. Don’t worry.” Harry berjalan mendekat ke arahku. “Sekarang jawab aku Sheera.” Ia meraih tanganku sekarang. “Aku mengerti mengapa kau berkata bahwa ucapanku tidak masuk akal. Tapi percayalah seiring berjalannya waktu, kau telah membuatku menyukaimu, bahkan aku telah jatuh cinta padamu, Sheera Hastings. Kumohon. Percayalah padaku.”

Aku langsung menarik tanganku dan membuang muka darinya, “Mereka menunggumu dari tadi Hazz.”

“Mereka akan mengklakson jika memang—“

“Please Harry. Just go.” I cut him off. Napasku tersengal. Sulit bagiku untuk percaya dengan kata-katanya. Atau mungkin lebih tepatnya aku kaget mendengar ucapannya yang terkesan begitu terburu-buru. Tapi demi Tuhan, I do feel the same way like him.

“Alright. I’ll go now.” Ujarnya parau. Harry melangkahkan kakinya keluar dari rumahku secara perlahan.


-Harry’s POV-
“Sheera.” Sahutku sebelum ia menutup pintu rumahnya yang bak istana. Ia menatapku nanar, “I love you.” Tuturku. Aku menatapnya selama beberapa saat, berharap ia akan memberikan respon, namun percuma. Aku pun memutar tubuhku dan berjalan menuju mobil van kami. Lalu kudengar suara pintu rumahnya yang tertutup.


But baby if you say you wan’t me to stay
I’ll change my mind
Cause I don’t wanna know I’m walking away
If you’ll be mine

Won’t go... Won’t go...
So baby if you say you want me to stay, stay for the night
I’ll change my mind....


“Harry!” tiba-tiba kudengar Sheera meneriakkan namaku. Begitu aku berbalik, Sheera langsung berlari memeluk tubuhku dengan erat. “Don’t go. Please stay... With me...”

Kulingkarkan sebelah tanganku di punggungnya dan menyentuh puncak kepalanya. “I will. I won’t go anywhere.” Bisikku padanya.

“I love you too.” Ujar Sheera. Suaranya bergetar dan rapuh.

“You do?” tanyaku tidak percaya.

Ia mengangguk dalam pelukanku. “I do. You?”

“I already said that. No doubt. I love you so much.” Aku menarik tubuhnya dariku. Matanya yang berkaca-kaca membuatku ingin menghapus air matanya yang hampir jatuh itu. “Don’t—“

Kata-kataku terpotong saat Sheera menempelkan bibirnya di bibirku. Aku membalas ciumannya dengan hangat dan bergairah, membuat kami sulit untuk melepasnya hingga akhirnya kami mendengar suara klakson dari dalam van yang membuat kami terkesiap dan menjauhkan tubuh kami masing-masing.

Louis.
Who else?!

Namun detik itu juga mobil van di belakangku langsung melaju perlahan. Niall mengeluarkan kepalanya dari jendela dan berteriak, “Good bye!”

“See you two, lovebirds!” Louis ikut mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangan ke arah kami.

Aku dan Sheera hanya bisa terkekeh. Kemudian aku kembali menatap matanya. Wajahnya yang bersemu merah membuatku gemas dan ingin merasakan desiran di jantungku lagi saat menciumnya seperti tadi.

“Let’s go inside.” Ajaknya dengan senyuman lebar tersungging diwajahnya yang sempurna.

“Sure. Come on.” Kuraih tangannya. Kami berdua kembali berjalan ke dalam rumahnya yang terang benderang.

Yeah. She changed my mind. And I’ll stay for her, no matter what, I won’t go anywhere. And finally, this fake relationship goes real. Either with what our parents wish.

No comments:

Post a Comment