Monday, August 5, 2013

Langit London


Finalis  #1DFanficContest13


ZLS

Langit London sedang tidak bersahabat sore ini, Aku menapaki satu demi satu anak tangga untuk menuruni pesawat ini. Perjalanan 9 jam yang baru saja aku jalani membuatku harus sedikit memegangi pinggangku. Belum lagi air hujan mulai turun membasahi kota yang terkenal dengan BigBen nya ini. Memaksaku untuk lebih mempercepat langkahku menuju tempat yang lebih kering. Ku lihat orang-orang disekitarku juga melakukan hal yang sama denganku, namun mereka terlihat sedikit berbeda denganku, mereka mulai memakai sweater untuk menghangatkan diri mereka, tapi aku? Aku merasa bodoh kali ini. Aku kira semua orang juga tau, daratan Eropa memang sangat dingin di musim ini. Tapi, aku tidak membawa baju hangat kesini.  Betapa bodohnya diriku sekarang. Ah sudahlah, sepertinya aku harus mencari cara lain untuk menghangatkan tubuhku. Akhirnya kuputuskan untuk memasuki sebuah Café ala Italy yang ada disebrang jalan, dan memesan secangkir kopi untuk sekedar membuat tubuhku lebih hangat. Orang-orang di dalam café melihatku dengan penuh keheranan, seolah-olah berkata “siapa dia? rambut tidak beraturan, tidak memakai sweater atau jaket, dan membawa koper yang sangat besar. Orang aneh”
Namun semua itu hanya khayalanku saja, toh, ternyata orang-orang didalam café sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tidak ada tatapan aneh yang ada di khayalanku. Aku memang aneh dan selalu berkhayal.
***
Cangkir kopiku sudah kosong sejak tadi, namun hujan diluar membuatku masih terduduk disini. Hujan itu air,bukan? Kenapa harus takut? Huh. Kenapa aku tidak berfikir sejak tadi…Akhirnya aku melangkahkan kaki ku keluar dari café itu. Aku salah, hujan telah berlalu. Orang-orang juga sudah memulai aktifitasnya kembali, aku masih berdiri terpaku di depan pelataran café. Meski hujan telah reda, langit London masih belum mau menunjukkan kecerahannya.
“Sekarang, apa?” desisku dalam hati, suasana hatiku kacau saat ini. Untuk apa juga aku berlibur ke London seorang diri? Tidak ada orang yang bisa aku ajak berbicara disini. Kecuali…orang disebrang jalan itu, tiba-tiba ia berlari kearahku, aku kira ia bisa diajak berbicara denganku, tapi ternyata dia mengambil koperku!
“HEI! KEMBALIKAN KOPERKU”
Aku berlari sekuat aku bisa untuk mengejar lelaki tadi. Di persimpangan jalan, tepatnya disebuah taman, aku melihat lekaki itu dengan santai nya sedang terduduk di bangku taman. WHAT THE HELL?
“HEI KEMBALIKAN KOPERKU!” Sekali lagi, aku meneriakkan kata yang sama, tapi kali ini aku berteriak tepat dihadapan lelaki itu.
Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengembalikan koperku. Matanya tak henti memandangiku. Karena aku belum mengenalnya, terlebih sorotan matanya, membuatku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Aku takut ia orang jahat, aku mengambil ancang ancang untuk berlari menjauhi orang aneh itu. Namun, aku terlambat. Orang aneh itu memegang lenganku. Aku menoleh..
“Hei mengapa kamu begitu takut melihatku? Ha-ha-ha” ia tertawa.
Aku masih bungkam seribu bahasa, tampaknya orang ini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.
“Aku orang baik, kenapa kau harus takut?”
“Apa yang bisa membuatku yakin bahwa kau orang baik?” aku memberanikan diriku bertanya pada lelaki itu.
“Apa wajahku menunjukan aku orang jahat?” ia menunjukkan senyum yang sangat manis.
“Kalau kau orang baik, untuk apa kau mengambil koperku tadi?”
“aku hanya ingin kau mengejarku”
WHAT? Dengan  mudah ia berkata seperti itu, sedangkan aku hampir setengah mati mengejarnya tadi.
“Aku Zayn, kau?” lanjutnya.
“Aku Tiffany, kau orang yang aneh” Aku sedikit menyindirnya. Ia hanya tersenyum kecil.
“Kau warga negara Indonesia, bukan?”
“ya, bagaimana kau bisa tahu? kau juga?”
“Wajahmu sangat kental dengan wajah-wajah wanita Asia. oh, bukan. Aku asli Inggris” Wajahnya memang menunjukan dengan jelas bahwa ia memang seorang British Boy.
“lalu, bagaimana bisa kau bisa lancar melafalkan bahasa dari negaraku?”
“Dulu, aku sempat tinggal di Jakarta, tapi itu sudah lama sekali” ia kembali tersenyum kepadaku.
Ia mulai menurunkan penutup kepala yang menyatu dengan Jaket coklatnya. Oh god, ia sangat tampan. Persis artis-artis Holywood.
“Kau bahkan lebih tampan dari yang aku bayangkan, lebih mirip dengan  artis-artis Holywood, ketimbang Orang biasa. Hahaha” aku sedikit menggodanya.
“Ah, kau terlalu berlebihan” ia menyahuti ucapanku tadi.
“Sedang apa kau disini?” ia kembali bertanya.
“Aku berlibur disini” ucapku sambil menatap kedepan.
“Seorang diri?”
“Yap, seperti kelihatannya” ucapku lesu.
“Sungguh tidak menyenangkan berlibur seorang diri di Negeri orang,”
“ya, begitulah”
Zayn kembali memakai penutup kepala nya dan memasukkan kedua tangannya pada saku jaketnya.
“Aku harus pergi, kau akan beruntung jika bertemu lagi denganku, begitu juga dengan aku. Langit London masih belum bersahabat. Bergegaslah memakai baju hangat sebelum kau merasakan dinginnya London  malam nanti. Sampai jumpa!” Ia berlalu dihadapanku.
Setelah Zayn berlalu, aku kembali menyusuri jalan-jalan di Kota London seorang diri. Sebelum malam tiba, aku harus cepat-cepat mencari penginapan dan bersembunyi dibawah selimut sebelum merasakan dinginnya malam di Kota London, persis yang Zayn katakan tadi.
***
Aku masih mengelilingi Kota London dengan menyeret koperku. Malam mulai menjelang, udara disini mungkin sudah bisa membuat api unggun padam hanya dengan hitungan detik. Ayolah, Ini London, aku hanya orang awam yang tidak mengenali sedikit pun tentang lingkungan sekitarku. Aku hanya ingin menemukan penginapan. Aku terus menggerutu dalam hati. Lelah, itu sudah pasti aku rasakan, ingin rasanya aku merebahkan diri di ranjang yang empuk dengan selimut tebal. Tapi….Dimana ada penginapan di daerah ini?

Samar-samar aku melihat sebuah Tulisan besar berwarna Biru Tua. “Hilton London Olympia

”Ah! Ini dia yang aku cari! Hanya sebuah tulisan biasa, tapi bisa menyelamatkanku dari udara London yang lama-kelamaan semakin menusuk sampai ke tulang.
Penginapan ini tidak terlalu besar tetapi cukup nyaman dan menyenangkan untuk aku tempati satu sampai dua minggu kedepan. Aku mulai merapikan barang-barangku di Laci yang tersedia di dalam kamar. Aku langsung merebahkan diri di ranjang dan mulai memejamkan mata…

***
Pagi ini aku sudah berada di  Buckingham Palace memandangi bunga-bunga tulip berwarna merah yang sedang mekar, Indah sekali, mungkin cukup baik untuk mengawali liburanku di London. Setelah roti-roti ditanganku habis, aku berjalan keluar pintu gerbang Buckingham Palace ini. Tiba-tiba aku memikirkan Zayn, lelaki yang aku temui kemarin sore.
“Aku tidak beruntung, Zayn. Buktinya, aku tidak bertemu lagi denganmu. Ha-ha-ha” lirihku sambil tertawa  memikirkan wajah tampan yang Zayn miliki.
Kini aku beranjak untuk pergi dari tempat ini, tapi belum sepenuhnya aku berjalan, segerombolan remaja putri menabrak tubuhku hingga aku harus lebih kuat mempertahankan keseimbangan tubuhku agar tidak terjatuh.
“Apakah mereka tidak bisa lebih berhati-hati sedikit?”  ucapku sambil kembali duduk di pinggiran kolam. Ku lihat remaja-remaja putri itu berlarian mengejar seseorang.
“ZAYN! ZAYNN!!” itulah teriakan beberapa dari mereka.
Apa? Zayn? Apakah Zayn mencuri lagi? Apakah ia mencuri  lagi  sehingga banyak orang mengejarnya? Itu tidak mungkin. Apakah Zayn memiliki fans? Ah, sepertinya itu lebih  tidak mungkin. Zayn kan hanya orang biasa. Atau mungkin orang itu bukan Zayn yang ku kenal kemarin? Ya. Itu pasti bukan Zayn.
Aku beranjak pergi ke tujuan wisataku selanjutnya, London Eye, aku menunggu angkutan umum semacam taksi di pinggir jalan. Setelah aku menunggu, taksi itu muncul juga, aku masuk kedalamnya dan menutup kembali pintu taksinya dengan hati-hati. Tiba-tiba seseorang membuka paksa pintu taksi yang aku tumpangi, ia duduk dengan tergesa-gesa. Ah! Siapa lagi orang aneh yang aku temui disini?
“ZAYN!” aku refleks berteriak melihat siapa yang ternyata ada disebelahku sekarang. Hari ini ia kembali memakai tutupan kepala yang menyatu dengan jaketnya, kali ini berwarna hitam.
“TIFFANY!” ia membalas teriakanku dengan teriakan yang tak kalah kencang dari teriakanku tadi.
“Maksudmu apa? Aku selalu mengagetkanku! Sebenarnya apa maumu?!” saat ini aku sangat kesal pada Zayn.
“Sudah, aku akan menjelaskan nya  nanti, tapi kita harus pergi secepatnya dari sini” nada bicaranya seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang menakutkan.
“Tapi aku akan pergi ke London Eye!”
“Oke, tidak ada masalah! Kita pergi ke London Eye sekarang”
Supir taksi mulai menjalankan kendaraannya menuju tempat yang dimaksud. Di dalam taksi, tidak ada pembicaraan antara aku dan Zayn. Aku lebih memilih melihat keluar jendela.
“Kau marah?” Zayn menyentuh bahuku.
“Ah, tak apa. Aku hanya sedikit kaget, karena kehadiranmu yang selalu membuatku hampir jantungan” Aku sedikit mengukir senyumku untuk lelaki manis dihadapanku saat ini.
“Maaf, aku dikejar banyak wanita tadi” Zayn menatap lurus kedepan.
“Apa? Dikejar banyak wanita? Kau mencuri lagi?”
“Oh, maaf. Maksudku…emmm” Zayn terlihat tidak bisa menjawab pertanyaanku. Seperti ada yang disembunyikan.
“Ah, itu tidak penting. Ayo, London Eye sudah menunggu kita” ucapku sembari membuka pintu taksi sebelah kanan. Diikuti dengan Zayn yang juga membuka pintu sebelah kiri.
Terik matahari menemani kami berdua mengelilingi area London Eye Aku sama sekali tidak merasa kepanasan walaupun sinar matahari banyak memaksa orang-orang untuk menggunakan payung atau topi untuk berlindung. Aku menoleh kesamping kiriku, Zayn terlihat sangat waspada dengan keadaan sekitar. Ia sekarang lebih terlihat seperti mata-mata dibandingkan seorang pemuda yang akan berekreasi ke London Eye.
“Kau baik-baik saja, Zayn?”
“Emm, aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Zayn menautkan kedua alisnya sehingga terlihat menyatu.
“oh, maaf. Aku kira kau sedang tidak enak badan” sekali lagi, aku hanya tersenyum.
Kami berdua duduk di bangku yang telah disediakan di pinggiran stand ice cream. Zayn mulai menurunkan penutup kepalanya.
“Kau senang sekali memakai tutupan kepala seperti itu, sebenarnya kau ini kenapa? Apakah rambutmu akan rontok jika terkena sinar matahari?”
“Ha-ha-ha kau ini senang sekali menggodaku, aku hanya ingin ketampananku hanya terlihat olehmu, bukan orang lain” ia memandangku penuh arti, matanya sangat sendu sekarang. Seperti tatapan seorang kekasih kepada kekasihnya.
Hening..itulah yang terjadi sekarang, mulutku seperti terkunci dengan tatapannya, matanya sangat indah. Membuatku tak ingin melepaskan tatapanku pada matanya.
“Ehh, memangnya kau tampan?” aku sedikit terhentak dan melepaskan tatapanku pada Zayn, begitu juga dengannya.
“Aku memang tampan sejak dalam kandungan ibuku” ia juga terlihat kikuk.
Aku hanya tersenyum kecil, ia memang manusia yang cukup percaya diri. Hahaha
Hari sudah sore, berarti sudah seharian penuh aku berjalan-jalan di London Eye, Zayn mengajakku mencoba Bianglala terbesar ketiga di Dunia yang terdapat di London Eye.
“Apa kau yakin ingin mencobanya?” aku ragu. Bianglala itu sangat besar dan tinggi.
“Apakah ada cara lain yang lebih baik untuk menikmati kota London dari atas bianglala setinggi 135 meter yang terletak di tepi sungai Thames?”
“Baiklah….” Aku berjalan sangat pelan. Aku takut ketinggian!”
Aku berhasil menaikinya. Ini sangat menakjubkan! banyak pasangan kekasih yang datang ketempat ini untuk menghabiskan detik-detik menuju malam  hari.
“Ini sangat indah” Aku tertawa lepas. Indahnya kota London bisa kulihat dari atas Bianglala ini, belum lagi matahari sepertinya akan tenggelam….
***
Aku dan Zayn dalam perjalanan pulang sekarang, kami memilih berjalan kaki. Tidak ada salahnya bukan? Menikmati pemandangan kota London yang indah ini dengan berjalan kaki. Terlebih Zayn menggandeng tanganku Ini sangat romantis.  .Semula, suasana jalanan ini sangat tenang dan terhindar dari kebisingan. Sebelum suara sepatu-sepatu itu bergesekan dengan permukaan jalan dengan tempo yang sangat cepat, aku dapat menerka bahwa sedang ada segerombolan orang yang berlarian kearah kami berdua. Aku menyempatkan diri menoleh kebelakangku…Dan…Gerombolan remaja yang menabrakku kemarin muncul lagi, sekarang dalam jumlah yang dua kali lipat lebih banyak. Zayn melihat aku yang sedang terheran-heran dengan orang-orang dibelakangku pun ikut menoleh kebelakang. Reaksinya tak pernah kuduga. Ia Menarik tanganku supaya mengikutinya. Tak tanggung-tanggung, ia mengajakku berlari, Aku bingung, Ada apa ini?
“Zayn, kenapa kita berlari?!” aku berbicara dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Aku akan memberitahumu ketika kita sudah berada ditempat yang aman!!” Zayn berbicara sangat keras, lebih tepatnya berteriak.
“Tapi kenapa mereka mengejar kita?!!” teriakanku pun tak kalah keras
“sudah, kau tak perlu banyak bicara, yang penting kau harus berlari lebih cepat lagi!!” Zayn masih menggandeng tanganku.
Entah sampai kapan aku harus berlari, Zayn masih membawaku berlari. Mungkin jika ada perlombaan lari marathon, Zayn akan memenangkannya, ia seperti sudah terlatih untuk berlari dengan cepat. Biasanya, di Indonesia orang yang berlari dengan kencang dipinggiran jalan adalah seorang pencuri, tapi, kami kan tidak mencuri?
“Di..mana penginapan…mu?” Zayn berteriak, kali ini suara nya tersendat-sendat, ia mungkin sudah terlalu lelah. Sementara remaja-remaja itu masih mengejar kami. Kali ini diiringi teriakan-teriakan memanggil nama Zayn. Sebenarnya mereka siapa? Huh.
“Di Hilton London Olympia Hotel!! 380 Kensington High St  London, Greater London W14 8NL”
Sepertinya ia membawaku ke Alamat hotel itu . Ya, ia membawaku ke Hotel penginapanku. Ia kembali menarik tanganku agar lebih cepat memasuki Hotel.
“Huuuh. Ini sangat melelahkan” Zayn duduk di Sofa Lobby sembari mengatur nafasnya.
“Apakah mereka sudah pergi?” Aku duduk disebelah Zayn, nafasku masih memburu akibat insiden tadi.
“Seperti nya mereka kehilangan jejak kita”
“Sebenarnya kenapa mereka mengejar kita sampai sejauh ini?”
“Fanny, kejadian ini memang tradisi di London. Sangat lucu bukan?” Zayn tertawa  renyah.
“kau bercanda?”
“Tidak, Fanny, mana mungkin aku bercanda. Hahaha”
Aku ragu dengannya sekarang. Kalau ia berbohong, aku akan sangat membencinya!
“lalu, kau bagaimana?” Aku menoleh pada Zayn. Keringat di pelipisnya bercucuran sebesar biji Jagung.
“Bagaimana apanya?”
“Bagaimana kau pulang kerumahmu?”
“Rumahku hanya berbeda beberapa blok dari sini, aku akan pulang sampai keadaan benar-benar aman”
“lalu aku?” aku menunjukkan jari telunjukku  sampai menempel di hidungku.
“Hahaha, kau lucu! kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah! Aku akan tetap disini” Zayn tertawa sambil memencet hidungku.
“Kau fikir ini tidak sakit?!” Aku memencet balik hidung mancung milik Zayn. Ia seseorang yang sangat lucu. Walaupun baru berkenalan beberapa hari, ia sudah bisa membuatku nyaman.
‘Hahaha! Sudah! Kau beristirahat! Aku akan pergi sekarang” Zayn beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari Hotel ini. Aku hanya tersenyum melihat punggung Zayn yang lama-kelamaan menghilang dari pandanganku….
***
Hari selanjutnya, masih di Kota London. Dengan segala rasa penasaranku akan kota yang sangat indah ini, aku bergegas membersihkan diri dan bergegas untuk mengunjungi beberapa tempat indah lainnya di Kota London.
“Tok..tok…tok” Seseorang mengetuk pintu kamar hotel ku. Pagi-pagi seperti ini? Aku buru-buru membuka pintu.
“Excuse me, letter for you” Tampaknya lelaki itu pegawai hotel ini.
“Thank you” aku kembali menutup pintu.
“Surat? Siapa yang mengirimiku surat?”
Aku membuka amplop dengan hati-hati, aku sedikit tersentak melihat isi surat ini.
“Kami tahu, kau wanita yang kencan bersama Zayn kemarin sore. Kami mengejarmu dan Zayn kemarin, kau masih ingat? Kami akan selalu melakukannya, atau mungkin lebih dari itu, kami akan membunuhmu!”
Membunuhku? Ini surat terror. Aku harus bertemu Zayn sekarang!
Aku sedikit berlari kecil menuruni tangga, tepat di Depan Lobby, Zayn sudah duduk manis sambil memandangi dirinya sendiri di sebuah kaca kecil, yang mungkin ia bawa dari rumahnya. Haha
“Zayn, kau tau maksud surat ini?!” tanpa basa-basi aku menyerahkan surat ini pada Zayn.
Zayn membaca surat itu. Matanya sesekali melirik kearahku.
“Aku diteror, Zayn! Aku takut!” Wajahku panik sekali.
“Kau tidak perlu takut, ini hanya surat!”
“Bagaimana aku tidak perlu takut, Zayn? Aku baru tiga hari di London, tapi aku sudah diteror. Sebenarnya siapa mereka?” Aku mengguncang-guncangkan tubuh Zayn.
“Aku juga tidak tahu! Sudahlah, mereka mungkin hanya menakutimu?”
Aku hanya diam.
“Ayo! Kita akan bersenang-senang di National Portrait Gallery hari ini, kau tidak boleh lupa membawa kameramu, disana banyak lukisan yang harus diabadikan ” Zayn menarik tanganku agar mengikutinya.
Aku terpaksa mengikuti Zayn, Aku coba tersenyum meskipun Aku masih menyimpan Tanya mengenai surat itu, ya, surat terror itu…
***
Hari sudah petang, kakiku terasa kaku sekali, seharian penuh aku mengelilingi berbagai tempat di London.
“Zayn, tunggu! Kakiku kaku sekali” ucapku sambil memegangi kaki kananku.
“Mungkin kau terlalu lelah, kakimu meminta istirahat! Haha” Zayn berjongkok dihadapanku.
“Kau kenapa berjongkok seperti itu?”
“Ayo naik kepunggungku!”
“Untuk apa?”
“Tiffany! Kau ini…Kakimu sakit bukan,?” Wajahnya menunjukkan ia sangat jengkel padaku.
“Oh iya, maaf” aku hanya tersenyum tanpa dosa. Dan mulai naik ke punggung Zayn.
Sepanjang perjalanan pulang, Zayn menggendongku. Ditemani lampu-lampu jalan yang berwarna-warni, Malam ini sangat indah.  Dia lelaki yang baik, tak heran ada perasaan berbeda tiap ia ada didekatku.
“Ah, aku sangat menyesal. Aku hanya dapat mengantarmu sampai ujung jalan ini. Tak apa?” Zayn menurunkanku dari punggungnya.
“Tak apa, Zayn. Terimakasih atas tumpangannya, Hahaha”
Zayn hanya membalas tawaku dengan senyuman, senyuman yang manis, seperti biasanya. Zayn mulai meninggalkanku seorang diri di Ujung jalan yang sepi ini. Dengan langkah yang tersendat, aku berusaha membawa kaki kananku untuk tetap berjalan. Sesampainya di depan Hotel, aku memutuskan untuk duduk sebentar di pelataran hotel. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang wanita yang sepertinya akan menghampiriku. Aku menyipitkan mataku, mereka yang tempo hari mengejar aku dan Zayn. Aku teringat dengan Surat terror itu, bulu kudukku mulai merinding, apakah mereka benar-benar akan membunuhku? Aku berusaha secepat mungkin berdiri meninggalkan tempat itu. Namun apa daya, kakiku ini sulit sekali berjalan, mereka sudah terlalu dekat.
“Seperti yang kami katakan! Kami akan membunuhmu!” kata seorang diantara mereka.
“Apa salahku sehingga kalian ingin membunuhku?”
“Kau berkencan dengan….ZAYN!” seorang diantara mereka menjawabnya dengan sedikit bentakan. Aku semakin takut dengan keadaan ini. Aku pergi ke London hanya ingin berlibur! Bukan untuk dibunuh dengan sekumpulan remaja ini!
Mereka mulai menarik tanganku, aku tak tinggal diam, aku mencoba memberontak. Tapi tenaga mereka jelas lebih kuat dari aku yang seorang diri.
“lepaskan aku!!”
“Tolong lepaskan Aku!!” aku kembali berteriak sekencang mungkin. Apakah tak ada yang mendengar teriakanku?
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar di telingaku. Langit London mulai berubah gelap. Beberapa diantara mereka mulai tidak sadar melepas tanganku, mereka terfokus pada Langit yang mulai bergemuruh. Kesempatan ini tak ku sia-siakan. Aku berhasil melepaskan diri dari mereka dan berlari sekuat tenaga memasuki Hotel. Aku bernafas lega, Mereka akan dihadang petugas hotel jika masih memaksa masuk.
***
“Zayn! Kau harus menjelaskan semua ini! Mereka benar-benar melakukannya! Kemarin aku hampir dibunuh oleh mereka!”
Aku dan Zayn sudah berada di Sebuah taman kota. Ia kutemukan sedang terduduk lesu disini.
“Sebenarnya, mereka fansku” Zayn berkata sangat pelan.
“Fans? Kau mempunyai fans?” aku hampir tidak percaya. Zayn memiliki fans?
“Kau tidak tahu? Aku personel One Direction”
Tunggu sebentar, One Direction? Aku sudah pernah mendengarnya beberapa kali.
“Jadi, selama ini kau membohongiku?!”
“kau bilang kau orang biasa, Kau hampir membuatku mati, Zayn! Aku benci orang pembohong!” lanjutku.
Zayn masih tak percaya aku bisa semarah ini padanya.
“Tapi aku hanya ingin kau menerimaku sebagai Zayn malik, orang biasa, bukan Zayn personel One direction” Zayn berkata jujur kali ini,
“Aku bisa menerimamu sebagai siapa saja, tapi bukan seperti ini caranya! Kau bisa berkata jujur padaku, dengan begitu aku akan menjaga diriku dari fans-fansmu! Kau tahu? Aku sangat ketakutan kemarin!”
“Maafkan aku, aku tahu, lambat laun kau juga akan mengetahuinya, tapi maafkan aku, aku menyayangimu..”
“Maafkan katamu? Aku sudah terlalu banyak memaafkanmu. Kau ingat? Saat kau mengambil koperku? Aku memaafkanmu! Saat kau berbohong tentang tradisi London itu? Aku bahkan tidak marah padamu. Waktu kau memaksa masuk kedalam taksi yang kutumpangi? Aku kaget. Tapi apakah aku marah? Tentang surat terror itu? Sebenarnya aku sangat takut! Tapi ku tutupi rasa takut itu, ini semua aku lakukan karena aku sayang padamu. Tapi, kejadian kemarin menyangkut keselamatanku Zayn!” Aku menumpahkan semuanya pada Zayn, tak terasa, butiran air mataku mulai membentuk sungai-sungai kecil di pipiku.
“Aku sungguh menyesal, aku benar benar tak menyangka kalau mereka akan benar-benar membunuhmu, maafkan aku” Zayn mulai memelukku. Pelukan yang sangat hangat. Tangisku belum reda, sehingga air mataku membasahi jaket Zayn. Ingin aku melepaskan pelukan ini, aku benar benar wanita yang sangat membenci kebohongan. Semakin aku ingin melepaskan pelukan Zayn, semakin kuat pula ia memelukku.
“Cukup, Zayn! Aku akan mengambil penerbangan ke Indonesia hari ini juga, Aku sangat ke-ce-wa padamu!” aku berhasil melepaskan pelukannya dan berlari menuju Hotelku. Keputusanku sudah bulat sekarang, aku akan pergi dari London beberapa hari lebih cepat dari rencanaku sebelumnya.
***
Aku menatap keluar jendela pesawat, langit London memperlihatkan ‘wajah’ mendungnya. Aku kembali teringat dengan suasana seperti ini. Aku ingat, pertama kali bertemu dengan Zayn, bagaimana ia mengambil koperku, saat itu Langit London sedang tidak bersahabat seperti sekarang, juga, saat  Langit London menyelamatkanku dari ancaman fans-fans Zayn, dan sekarang….langit London yang seperti ini jugalah yang mengakhiri pertemuanku dengan Zayn, mungkin….
***
Aku sudah sampai di Indonesia, aku tak langsung pulang kerumah, sedikit jalan-jalan ke Mall mungkin lebih baik. Aku memasuki sebuah Café, hiasan dindingnya bertemakan Artis-artis Holywood, dari sekian banyak hiasan dinding di Café itu, mataku tertuju pada sebuah poster, bertuliskan ‘One Direction’ diantara mereka, terlihat wajah Zayn, senyum nya sama manis dengan aslinya. Mereka itu selebriti dunia, tapi aku sama sekali tidak mengetahui mereka, Zayn adalah bagian dari mereka pun aku tak tau. Sebenarnya aku ini hidup di planet mana? HUH.
***
Aku mengerjap-erjapkan mataku, sinar matahari yang masuk ke celah-celah kamarku menandakan hari sudah pagi. Aku berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri. Selang sekitar empat puluh menit aku sudah rapi, aku menatap diriku sendiri di depan kaca kamarku.
“Ada apa ini? tumben sekali pagi-pagi seperti ini aku sudah rapi” kataku dalam hati.
Akumenyampirkan gorden kamarku, bunga-bunga di kebunku sudah mulai layu, aku berjalan menuju pintu keluar rumah, bukan bunga-bunga yang aku lihat, tapi, ZAYN sedang tertidur didepan pintu rumahku! Bagaimana bisa ia ada disini?
Otomatis, saat aku membuka pintu, tubuh Zayn terhempas kebelakang, Ia terbangun. Ia langsung memelukku.
“Tolong, maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa tanpamu, aku akan menuruti semua permintaanmu, apapun itu! Aku menyayangimu” ucap Zayn di sela-sela pelukannya.
Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, Zayn selalu membayang-bayangi pikiranku sampai detik ini, maka sangat munafiklah aku jika tidak membalas pelukannya.
“Aku pasti memaafkanmu, maaf, kemarin aku terlalu emosional”
“Kau serius?” Matanya sekarang terlihat sangat berbinar-binar.
“Ya” aku tersenyum.
“Kalau begitu, kau harus ikut denganku ke London!”
“Untuk apa?” aku bingung.
“Aku akan memperkenalkanmu kepada orang tuaku”
“Secepat itu?” Zayn mengangguk.
Hari itu juga aku terbang ke London bersama Zayn.
***
Ah, Langit London masih gelap, mengapa begitu lama? Setetes demi setetes air hujan rupanya sudah mulai terjun bebas dari Langit London. Aku dan Zayn berlari menghindari hujan, menepi di sebuah Halte Bus. Suasana sangat sepi, hanya kami berdua disini.
“Sekarang kau sudah ada di London, berarti kau adalah kekasihku” Zayn tersenyum penuh arti.
“Kekasihmu? Hahaha” tak ada yang bisa ku lakukan selain tertawa, Zayn berhasil membuatku salah tingkah. Mati gaya, atau semacamnya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Kita baru saja bertemu kurang dari satu minggu, Zayn”
“Kau percaya cinta pada pandangan pertama?” Zayn tersenyum.
“Aku tidak begitu percaya, cinta butuh waktu..”
“Awalnya aku juga tidak percaya, tapi kau datang dan membuat semuanya nyata untukku, aku mencintaimu” Zayn menyatakan cintanya padaku. Ini sungguh diluar dugaanku.
“Apa alasannya kau mencintaiku?”
“Cinta itu tak butuh alasan” Ia terseyum lagi, lagi, dan lagi.
“Kau bisa saja” Pipiku merah merona.
“Masalah fansku, aku minta maaf jika mereka mengganggumu. Mereka berbuat seperti itu karena mereka sayang padaku. Waktu itu kau bukan siapa-siapa untukku, tetapi sekarang kau adalah milikku, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu, aku tak akan membiarkan kau lecet sedikitpun, tidak akan! ;)x”
Aku tersenyum. Perlahan, Zayn mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Apa yang akan kau lakukan Zayn?! AAA” Aku sedikit berteriak histeris.
“Menciummu’
“HAH? Menciumku?”
“Iyap!” ia kembali tersenyum, senyuman yang aneh, pikirku.
“Coba saja kalau kau bisa!”
Aku berlari menghindari Zayn, berlari menembus hujan yang sangat deras ini. Sambil sesekali mensyukuri nikmat tuhan yang telah kurasakan sekarang. Aku pernah mendengar suatu kutipan kata-kata unik yang aku dapat dari sebuah novel, isinya: Cinta itu seperti Café, ada yang datang, ada yang pergi dan ada yang ingin kembali. Tapi aku yakin, lelaki yang sedang mengejarku saat ini datang, tetapi tak akan pergi dan selalu terjaga dihatiku. Hari ini…Langit London masih seperti biasanya, gelap. Namun kali ini membawa cerita baru dalam sejarah hidupku, di bawah Langit London ini pula Tuhan telah mempersatukan dua insan dalam satu cinta. Bagiku, cinta itu tak dapat ditebak, sekeras apapun kita mengejarnya, tetap saja tidak akan datang kalau belum waktunya. Cinta juga tidak dapat dipikat seperti burung, tetapi cinta akan datang dengan sendirinya jika sudah waktunya~
Aku harus lebih cepat lagi berlari, tampaknya Zayn sudah hampir mendekatiku. Ini Gawat!!

No comments:

Post a Comment